Pengaruh Berbagai Media Terhadap Perkecambahan Matoa

Posted: 03/11/2011 in kuliahku

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Matoa (Pometia pinnata Frost) merupakan salah satu pohon penghasil buah asli Papua. Buah matoa mempunyai citarasa yang khas dengan bentuk buah yang mirip buah lengkeng sehingga matoa dikenal masyarakat luar Papua sebagai lengkeng Papua. Dengan keunggulan citarasanya tersebut berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI No. 160/Kpts/SR.120/3/2006, matoa Papua telah ditetapkan sebagai varitas buah unggul yang patut dibudidayakan.

Meskipun dikenal memiliki citarasa yang khas dan harganya cukup mahal sejauh ini matoa belum dibudidayakan secara intensif. Buah yang diperjualbelikan di pasar lokal berasal dari pohon yang tumbuh secara alami di kebun masyarakat atau kawasan hutan sehingga ketersediaannya terbatas dengan kualitas buah yang beragam. Apalagi sebagian masyarakat memanen buah matoa dengan menebang pohonnya sehingga dari waktu ke waktu ketersediaan pohon penghasil buah semakin berkurang.

Di lain pihak, kelezatan buah matoa yang khas semakin banyak peminatnya, bahkan sampai ke luar daerah Papua. Semakin tersedianya sarana transportasi antar pulau semakin memudahkan distribusi buah matoa ke luar Papua. Memperhatikan berbagai hal tersebut buah matoa dinilai cukup potensial untuk dikembangkan dan dibudidayakan sebagai buah unggulan lokal Papua. Selain menyediakan alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat, budidaya juga akan menunjang kelestarian pohon matoa.

1.2 Perumusan Masalah

Media tanam yang sering dipakai untuk dijadikan tempat tumbuh bagi tanaman biasanya menggunakan media tanah, tapi banyak juga yang menggunakan media yang lainnya seperti sekam padi dan pupuk kandang. Tapi biasanya tanaman sukar tumbuh pada media yang bukan tanah, tanaman dapat tumbuh dengan baik bila media yang digunakan sesuai dengan kebutuhan tanaman tersebut, tapi apabila media yang digunakan tidak sesuai maka pertumbuhan tanaman akan terhambat. Apakah mungkin tanaman dapat tumbuh dengan baik jika medianya bukan tanah ?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh berbagai media tanam terhadap perkecambahan benih matoa.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Risalah Umum Matoa

2.1.1 Botanis dan Penyebaran

Matoa (Pometia sp) merupakan tumbuhan daerah tropis yang banyak terdapat di hutan-hutan pedalaman Pulau Irian (sekarang Papua). Secara umum diketahui terdapat 3 spesies pometia, yaitu P. pinnata, P. coreaceae, dan P. accuminata. Secara taksonomis klasifikasi matoa adalah :

Kingdom : Plantae (tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)

Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisio : Magnoliophyta (berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)

Sub-kelas : Rosidae

Ordo : Sapindales

Familia : Sapindaceae

Genus : Pometia

Species : Pometia pinnata J.R & G. Forst, Pometia acuminata, dan Pometia coreaceae.

.Dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Matoa. Di tempat lain matoa dikenal dengan berbagai nama, yaitu Kasai (Kalimantan Utara, Malaysia, Indonesia), Malugai (Philipina), dan Taun (Papua New Guinea). Sedangkan nama daerah adalah Kasai, Kongkir, Kungkil, Ganggo, Lauteneng, Pakam (Sumatera); Galunggung, Jampango, Kasei, Landur (Kalimantan); Kase, Landung, Nautu, Tawa, Wusel (Sulawesi); Jagir, Leungsir, Sapen (Jawa); Hatobu, Matoa, Motoa, Loto, Ngaa, Tawan (Maluku); Iseh, Kauna, Keba, Maa, Muni, (Nusa Tenggara); Ihi, Mendek, Mohui, Senai, Tawa, Tawang (Papua).

2.1.2 Daerah Penyebaran

Di Indonesia matoa (Pometia spp.) tumbuh menyebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), Maluku, dan Papua (Sudarmono, 2001). Daerah penyebaran matoa di Papua antara lain di Dataran Sekoli (Jayapura), Wandoswaar – P. Meoswaar, Anjai – Kebar, Warmare, Armina, Bintuni, Ransiki (Manokwari), dan lain-lain. Tumbuh pada tanah yang kadang-kadang tergenang air tawar, pada tanah berpasir, berlempung, berkarang dan berbatu cadas. Keadaan lapangan datar, bergelombang ringan – berat dengan lereng landai sampai curam pada ketinggian sampai 120 m di atas permukaan air laut (Dinas Kehutanan DATI I Irian Jaya, 1976)
Matoa merupakan tumbuhan berbentuk pohon dengan tinggi 20 – 40 m, dan ukuran diameter batang dapat mencapai 1,8 meter. Batang silindris, tegak, warna kulit batang coklat keputih-putihan, permukaan kasar. Bercabang banyak sehingga membentuk pohon yang rindang, percabangan simpodial, arah cabang miring hingga datar. Akar tunggang, coklat kotor.

Matoa berdaun majemuk, tersusun berseling, 4 – 12 pasang anak daun. Saat muda daunnya berwarna merah cerah, setelah dewasa menjadi hijau, bentuk jorong, panjang 30 – 40 cm, lebar 8 – 15 cm. Helaian daun tebal dan kaku, ujung meruncing (acuminatus), pangkal tumpul (obtusus), tepi rata. Pertulangan daun menyirip (pinnate) dengan permukaan atas dan bawah halus, berlekuk pada bagian pertulangan. Bunga majemuk, bentuk corong, di ujung batang. Tangkai bunga bulat, pendek, hijau, dengan kelopak berambut, hijau. Benang sari pendek, jumlah banyak, putih. Putik bertangkai, pangkal membulat, putih dengan mahkota terdiri 3 – 4 helai berbentuk pita, kuning. Buah bulat atau lonjong sepanjang 5 – 6 cm, berwarna hijau kadang merah atau hitam (tergantung varietas). Daging buah lembek, berwarna putih kekuningan. Bentuk biji bulat, berwarna coklat muda sampai kehitam-hitaman.

2.2 Media Tanam

Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam. Menentukan media tanam yang tepat dan standar untuk jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya merupakan hal yang sulit. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki kelembapan dan kecepatan angin yang berbeda. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembapan daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara.

Jenis media tanam yang digunakan pada setiap daerah tidak selalu sama. Di Asia Tenggara, misalnya, sejak tahun 1940 menggunakan media tanam berupa pecahan batu bata, arang, sabut kelapa, kulit kelapa, atau batang pakis. Bahan-bahan tersebut juga tidak hanya digunakan secara tunggal, tetapi bisa dikombinasikan antara bahan satu dengan lainnya. Misalnya, pakis dan arang dicampur dengan perbandingan tertentu hingga menjadi media tanam baru. Pakis juga bisa dicampur dengan pecahan batu bata.

Untuk mendapatkan media tanam yang baik dan sesuai dengan jenis tanaman yang akan ditanam, seorang hobiis harus memiliki pemahaman mengenai karakteristik media tanam yang mungkin berbeda-beda dari setiap jenisnya. Berdasarkan jenis bahan penyusunnya, media tanam dibedakan menjadi bahan organik dan anorganik.

2.2.1 Bahan Organik

Media tanam yang termasuk dalam kategori bahan organik umumnya berasal dari komponen organisme hidup, misalnya bagian dari tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, atau kulit kayu. Penggunaan bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul dibandingkan dengan bahan anorganik. Hal itu dikarenakan bahan organik sudah mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman. Selain itu, bahan organik juga memiliki pori-pori makro dan mikro yang hampir seimbang sehingga sirkulasi udara yang dihasilkan cukup baik serta memiliki daya serap air yang tinggi.

Bahan organik akan mengalami proses pelapukan atau dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme. Melalui proses tersebut, akan dihasilkan karbondioksida (CO2), air(H2O), dan mineral. Mineral yang dihasilkan merupakan sumber unsur hara yang dapat diserap tanaman sebagai zat makanan. Namun, proses dekomposisi yang terlalu cepat dapat memicu kemunculan bibit penyakit. Untuk menghindarinya, media tanam harus sering diganti. Oleh karena itu, penambahan unsur hara sebaiknya harus tetap diberikan sebelum bahan media tanam tersebut mengalami dekomposisi.

Beberapa jenis bahan organik yang dapat dijadikan sebagai media tanam di antaranya arang, cacahan pakis, kompos, mosS, sabut kelapa, pupuk kandang, dan humus.

2.2.2 Bahan Anorganik

Bahan anorganik adalah bahan dengan kandungan unsur mineral tinggi yang berasal dari proses pelapukan batuan induk di dalam bumi. Proses pelapukan tersebut diakibatkan oleh berbagai hal, yaitu pelapukan secara fisik, biologi-mekanik, dan kimiawi.

Berdasarkan bentuk dan ukurannya, mineral yang berasal dari pelapukan batuan induk dapat digolongkan menjadi 4 bentuk, yaitu kerikil atau batu-batuan (berukuran lebih dari 2 mm), pasir (berukuran 50 /-1- 2 mm), debu (berukuran 2-50u), dan tanah liat (berukuran kurang dari 2ju). Selain itu, bahan anorganik juga bisa berasal dari bahan-bahan sintetis atau kimia yang dibuat di pabrik. Beberapa media anorganik yang sering dijadikan sebagai media tanam yaitu gel, pasir, kerikil, pecahan batu bata, spons, tanah liat, vermikulit, perlit, dan kertas.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan selama 1 ( satu ) bulan bertempat di halaman rumah jalan Sepakat 2 Rusunawa Untan Enggang 1 No. 309.

 

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Adapun beberapa peralatan yang digunakan yakni polyback, label, dan sendok.

3.2.2 Bahan

Adapun beberapa bahan yang digunakan yakni pasir, sekam padi, kertas bekas, arang dan biji matoa.

 

3.3 Prosedur Kerja

Siapkan polyback sebanyak 4 buah, kemudian diberi label pada setiap polyback tersebut, kemudian masukkan media pasir pada polyback pertama, media sekam padi pada polyback kedua, media arang pada polyback ketiga, dan media kertas bekas pada polyback yang keempat dengan menggunakan sendok. Setelah itu massukkan biji matoa pada setiap media. Amati pertumbuhan biji pada setiap media tanam tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Gambar 1. Perkecambahan Matoa Pada Media Arang

 

 

Gambar 2. Perkecambahan Matoa Pada Media Sekam

 

 

 

Gambar 3. Perkecambahan Matoa Pada Media Pasir

 

 

Gambar 4. Perkecambahan Matoa Pada Media Kertas

 

 

 

 

4.2 Pembahasan

Matoa adalah tanaman yang tidak memiliki masa dormansi biji, apabila telah terlepas dari daging buah maka harus segera cepat ditanam karena jika tidak ditanam maka biji ini akan mati. Media tanam yang berbeda struktur, tekstur dan permaebilitas ini sangat mempengaruhi perkecambahan benih matoa, yang dimana kandingan bahan organik pada setiap media ini sangatlah berbeda.

  1. Pada media arang pertumbuhan benih matoa kurang baik, hal ini terlihat dalam gambar 1. Hal itu dikarenakan arang kurang mampu mengikat air dalam jumlah banyak. Keunikan dari media jenis arang adalah sifatnya yang bufer (penyangga). Selain itu, bahan media ini juga tidak mudah lapuk sehingga sulit ditumbuhi jamur atau cendawan yang dapat merugikan tanaman. Namun, media arang cenderung miskin akan unsur hara.

Sebelum digunakan sebagai media tanam, idealnya arang dipecah menjadi potongan-potongan kecil terlebih dahulu sehingga memudahkan dalam penempatan di dalam polyback. Ukuran pecahan arang ini sangat bergantung pada wadah yang digunakan untuk menanam serta jenis tanaman yang akan ditanam. Untuk mengisi wadah yang memiliki diameter 15 cm atau lebih, umumnya digunakan peeahan arang yang berukuran panjang 3 em, lebar 2-3 cm, dengan ketebalan 2-3 cm. Untuk wadah  yang lebih kecil, ukuran pecahan arang juga harus lebih kecil.

 

  1. Pada media Sekam padi pertumbuhan benih matoa sangat baik, hal ini terlihat pada gambar 2.. Sekam bakar dan sekam mentah memiliki tingkat porositas yang sama. Sebagai media tanam, keduanya berperan penting dalam perbaikan struktur tanah sehingga sistem aerasi dan drainase di media tanam menjadi lebih baik.

Penggunaan sekam bakar untuk media tanam tidak perlu disterilisasi lagi karena mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Selain itu, sekam bakar juga memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media tanam ini menjadi gembur, namun sekam bakar cenderung mudah lapuk.

Sementara kelebihan sekam mentah sebagai media tanam yaitu mudah mengikat air, tidak mudah lapuk, merupakan sumber kalium (K) yang dibutuhkan tanaman, dan tidak mudah menggumpal atau memadat sehingga akar tanaman dapat tumbuh dengan sempurna. Namun, sekam padi mentah cenderung miskin akan unsur hara.

 

  1. Pada media pasir pertumbuhan benih cukup baik, hal ini terlihat pada gambar 3. Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Sementara bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya batang. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. Pasir malang dan pasir bangunan merupakan Jenis pasir yang sering digunakan sebagai media tanam.

Oleh karena memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi (ketahanan terhadap proses pemisahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air atau angin. Dengan demikian, media pasir lebih membutuhkan pengairan yang lebih intensif.

 

  1. Pada media kertas bekas pertumbuhan tanaman agak sedikit terlambat hal ini terlihat pada gambar 4. Hidroponik dengan mengunakan kertas bekas ini hanya dapat digunakan pada tanaman bunga – bungaan. Oleh karena itu mungkin kurang cocok untuk tanaman semusim seperti matoa. Adapun zat kimia yangterkandung pada kertas sehinnga menyebabakan hanya diperbolehkan untuk tanaman hias adalah sebagai berikut :
  • Bahan pemutih, diperukan untuk membuat kertas menjadi putih bersih sebab bahan baku kertas tidak berwarna. Bahan pemutih tersebut yaitu : Hidrogen Peroksid,Natrium Peroksid, Natrium Bisufat, Kalium Bisulfat.
  • Bahan penghancur kayu, diperlukanuntuk menghancurkan kayu tidak dengan cara mekanis tetapi bahan reaksi kimia. Bahan penghancur tersebut adalah : Asam >Asam sulfat, Alkali > Sodium Hidroksid.
  • Bahan pewarna.
  • Bahan Pengisi, bahan untuk menutup lubang-lubnag halus pada permukaan kertas. Sehingga diperoleh.kertas yang rata dan halus. Diantara bahan-bahan tersebut adalah : Kaolin, Tanah Diatomea, Gips, Kapur Magnesit.
  • Bahan perekat, bahan untuk mengikat serat atau selulosa kayuagar lebih kuat dan kokoh diantaranya : Perekat arpus, Perekat hewani,Perekat tepung kanji.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

Kesimpulan :

  1. Matoa adalah tanaman yang tidak memiliki masa dormansi biji, apabila telah terlepas dari daging buah maka harus segera cepat ditanam karena jika tidak ditanam maka biji ini akan mati. Media tanam yang berbeda struktur, tekstur dan permaebilitas ini sangat mempengaruhi perkecambahan benih matoa, yang dimana kandingan bahan organik pada setiap media ini sangatlah berbeda.
  2. Pada media arang pertumbuhan benih matoa kurang baik, hal itu dikarenakan arang kurang mampu mengikat air dalam jumlah banyak. Selain itu, media arang cenderung miskin akan unsur hara.
  3. Pada media Sekam padi pertumbuhan benih matoa sangat baik, sekam bakar dan sekam mentah memiliki tingkat porositas yang sama. Sebagai media tanam, keduanya berperan penting dalam perbaikan struktur tanah sehingga sistem aerasi dan drainase di media tanam menjadi lebih baik.
  4. Pada media pasir pertumbuhan benih cukup baik, pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman.
  5. Pada media kertas bekas pertumbuhan tanaman agak sedikit terlambat, hidroponik dengan mengunakan kertas bekas ini hanya dapat digunakan pada tanaman bunga – bungaan. Oleh karena itu mungkin kurang cocok untuk tanaman semusim seperti matoa.

 

Comments
  1. […] 2011. Pengaruh Berbagai Media terhadap Perkecambahan Matoa.  https://semadim.wordpress.com/2011/11/03/pengaruh-berbagai-media-terhadap-perkecambahan-matoa/. Diakses pada tanggal 9 Mei […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s