TPLBG

Posted: 05/11/2011 in kuliahku

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keterbatasan lahan produktif menyebabkan ekstensifikasi pertanian mengarah pada lahan-lahan marjinal. Lahan gambut adalah salah satu jenis lahan marjinal yang dipilih, terutama oleh perkebunan besar, karena relatif lebih jarang penduduknya sehingga kemungkinan konflik tata guna lahan relatif kecil.

Indonesia memiliki lahan gambut terluas di antara negara tropis, yaitu sekitar 21 juta ha, yang tersebar terutama di Sumatera, Kalimantan dan Papua (BB Litbang SDLP, 2008). Namun karena variabilitas lahan ini sangat tinggi, baik dari segi ketebalan gambut, kematangan maupun kesuburannya, tidak semua lahan gambut layak untuk dijadikan areal pertanian. Dari 18,3 juta ha lahan gambut di pulau-pulau utama Indonesia, hanya sekitar 6 juta ha yang layak untuk pertanian.

Kenyataan di lapangan gambut di Indonesia sebagian besar merupakan gambut rawa lebat dan baru sedikit yang dimanfaatkan untuk lahan pertanian bagi para transmigran, yaitu gambut tipis yang tersebar di daerah yang terletak di tepi sungai besar. Jenis flora dan fauna di hutan gambut relatif terbatas, sedangkan tanahnya mengandung lebih dari 65% bahan organik.

Perluasan pemanfaatan lahan gambut meningkat pesat di beberapa propinsi yang memiliki areal gambut luas, seperti Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Antara tahun 1982 sampai 2007 telah dikonversi seluas 1,83 juta ha atau 57% dari luas total hutan gambut seluas 3,2 juta ha di Provinsi Riau. Laju konversi lahan gambut cenderung meningkat dengan cepat, sedangkan untuk lahan non gambut peningkatannya relatif lebih lambat (WWF, 2008).

Ekosistem lahan gambut sangat penting dalam sistem hidrologi kawasan hilir suatu DAS karena mampu menyerap air sampai 13 kali lipat dari bobotnya. Selain itu, kawasan gambut juga merupakan penyimpan cadangan karbon yang sangat besar, baik di atas maupun di bawah permukaan tanah.

Kerusakan ekosistem gambut berdampak besar terhadap lingkungan setempat (in situ) maupun lingkungan sekelilingnya (ex situ). Kejadian banjir di hilir DAS merupakan salah satu dampak dari rusaknya ekosistem gambut. Deforestasi hutan dan penggunaan lahan gambut untuk sistem pertanian yang memerlukan drainase dalam (> 30 cm) serta pembakaran atau kebakaran menyebabkan emisi CO2 menjadi sangat tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

2.1 Pengertian Gambut

 

Semula para pakar tanah dari Eropa berpendapat bahwa gambut tidak akan ditemukan di daerah tropika (seperti Indonesia) yang mempunyai temperatur tinggi, dengan alasan bahan organik dari tetumbuhan akan cepat terdekomposisi oleh jasad renik dan tidak terlonggok di daerah beriklim panas. Akan tetapi dugaan tersebut ternyata tidak benar, karena Bernelot Moens dan Van Vlaardingen pada tahun 1865 menemukan gambut di Karesidenan Besuki dan Rembang. Hasil ekspedisi Yzerman di Sumatra tahun 1895 juga melaporkan adanya gambut di daerah Siak, bahkan pada tahun 1794 John Andersen telah menyebutkan bahwa di Riau terdapat gambut (Soepraptohardjo dan Driessen, 1976). Kemudian baru pada tahun 1909 Potonie dan Kooders mengumumkan bahwa di Indonesia telah diketemukan gambut pada berbagai tempat (Wirjodihardjo dan Kong, 1950).

Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah kaya bahan organic (C-organik > 18%) dengan ketebalan 50 cm atau lebih. Bahan organik penyusun tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tanaman yang belum melapuk sempurna karena kondisi lingkungan jenuh air dan miskin hara. Oleh karenanya lahan gambut banyak dijumpai di daerah rawa belakang (back swamp) atau daerah cekungan yang drainasenya buruk.

Dengan demikian gambut terdiri dari tumpukan bahan organik yang belum terdekomposisi (tidak terdekomposisi dengan baik), yang memerangkap dan menyerap karbon di dalamnya dan membentuk lahan dengan profil yang disusun oleh bahan organik dengan ketebalan mencapai lebih dari 20 meter. Tanaman-tanaman yang tumbuh di atas gambut membentuk ekosistem hutan rawa gambut yang mampu menyerap karbondioksida dari atmosfer untuk berfotosintesis dan menambah simpanan karbon dalam ekosistem tersebut.

 

2.1.1 Proses Pembentukan Gambut

 

Gambut terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik yang sudah lapuk maupun belum. Timbunan terus bertambah karena proses dekomposisi terhambat oleh kondisi anaerob dan/atau kondisi lingkungan lainnya yang menyebabkan rendahnya tingkat perkembangan biota pengurai. Pembentukan tanah gambut merupakan proses geogenik yaitu pembentukan tanah yang disebabkan oleh proses deposisi dan tranportasi, berbeda dengan proses pembentukan tanah mineral yang pada umumnya merupakan proses pedogenik

(Hardjowigeno, 1986).

Pembentukan gambut diduga terjadi antara 10.000-5.000 tahun yang lalu (pada periode Holosin) dan gambut di Indonesia terjadi antara 6.800-4.200 tahun yang lalu (Andriesse, 1994). Gambut di Serawak yang berada di dasar kubah terbentuk 4.300 tahun yang lalu (Tie and Esterle, 1991), sedangkan gambut di Muara Kaman Kalimantan Timur umurnya antara 3.850 sampai 4.400 tahun (Diemont and Pons, 1991). Siefermann et al. (1988) menunjukkan bahwa berdasarkan carbon dating (penelusuran umur gambut menggunakan teknik radio isotop) umur gambut di Kalimantan Tengah lebih tua lagi yaitu 6.230 tahun pada kedalaman 100 cm sampai 8.260 tahun pada kedalaman 5 m. Dari salah satu lokasi di Kalimantan Tengah, Page et al. (2002) menampilkan sebaran umur gambut sekitar 140 tahun pada kedalaman 0-100 cm, 500-5.400 tahun pada kedalaman 100-200 cm, 5.400-7.900 tahun pada kedalaman 200-300 cm, 7.900-9.400 tahun pada kedalaman 300-400 cm, 9.400-13.000 tahun pada kedalaman 400-800 cm dan 13.000-26.000 tahun pada kedalaman 800-1.000 cm.

Tentang pembentukan gambut di Indonesia, pada zaman pleistosen permukaan laut turun kurang lebih 60 meter di bawah permukaan air laut sekarang. Pada waktu itu bagian timur Sumatra, Malaysia, bagian barat dan selatan Kalimantan di hubungkan oleh selat Sunda, sedangkan bagian selatan Irian Jaya menempati sebagian dari selat Sahul. Kemudian selama zaman holosin daerah-daerah ini secara berangsur-angsur digenangi air laut. Naiknya permukaan air laut menyebabkan naik pula permukaan air tanah di daerah pedalaman, maka lokasi dimana air laut tidak dapat lagi ke daratan akan terbentuk rawa. Pada cekungan-cekungan terjadi proses longgokan bahan organik yang berasal dari vegetasi rawa sehingga terbentuklah gambut. Pada cekungan yang dalam secara berangsur-angsur terjadi penimbunan bahan organik sehingga akan terbentuk gambut tebal (Darmawijaya, 1980).

Proses pembentukan gambut dimulai dari adanya danau dangkal yang secara perlahan ditumbuhi oleh tanaman air dan vegetasi lahan basah. Tanaman yang mati dan melapuk secara bertahap membentuk lapisan yang kemudian menjadi lapisan transisi antara lapisan gambut dengan substratum (lapisan di bawahnya) berupa tanah mineral. Tanaman berikutnya tumbuh pada bagian yang lebih tengah dari danau dangkal ini dan secara membentuk lapisan-lapisan gambut sehingga danau tersebut menjadi penuh.

 

2.1.2 Klasifikasi Gambut

 

Secara umum dalam klasifikasi tanah, tanah gambut dikenal sebagai Organosol atau Histosols yaitu tanah yang memiliki lapisan bahan organik dengan berat jenis (BD) dalam keadaan lembab < 0,1 g cm-3 dengan tebal > 60 cm atau lapisan organik dengan BD > 0,1 g cm-3 dengan tebal > 40 cm (Soil Survey Staff, 2003).

Gambut diklasifikasikan lagi berdasarkan berbagai sudut pandang yang berbeda; dari tingkat kematangan, kedalaman, kesuburan dan posisi pembentukannya. Berdasarkan tingkat kematangannya, gambut dibedakan menjadi:

  • Gambut saprik (matang) adalah gambut yang sudah melapuk lanjut dan bahan asalnya tidak dikenali, berwarna coklat tua sampai hitam, dan bila diremas kandungan seratnya < 15%.
  • Gambut hemik (setengah matang) adalah gambut setengah lapuk, sebagian bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarma coklat, dan bila diremas bahan seratnya 15 – 75%.
  • Gambut fibrik (mentah) adalah gambut yang belum melapuk, bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarna coklat, dan bila diremas >75% seratnya masih tersisa.

 

Berdasarkan tingkat kesuburannya, gambut dibedakan menjadi:

  • Gambut eutrofik adalah gambut yang subur yang kaya akan bahan mineral dan basa-basa serta unsur hara lainnya. Gambut yang relative subur biasanya adalah gambut yang tipis dan dipengaruhi oleh sedimen sungai atau laut.
  • Mesotrofik adalah gambut yang agak subur karena memiliki kandungan mineral dan basa-basa sedang.
  • Gambut oligotrofik adalah gambut yang tidak subur karena miskin mineral dan basa-basa. Bagian kubah gambut dan gambut tebal yang jauh dari pengaruh lumpur sungai biasanya tergolong gambut oligotrofik

 

Tingkat kesuburan gambut ditentukan oleh kandungan bahan mineral dan basa-basa, bahan substratum/dasar gambut dan ketebalan lapisan gambut. Gambut di Sumatra relatif lebih subur dibandingkan dengan gambut di Kalimantan.

 

Berdasarkan lingkungan pembentukannya, gambut dibedakan atas:

  • Gambut ombrogen yaitu gambut yang terbentuk pada lingkungan yang hanya dipengaruhi oleh air hujan.
  • Gambut topogen yaitu gambut yang terbentuk di lingkungan yang mendapat pengayaan air pasang. Dengan demikian gambut topogen akan lebih kaya mineral dan lebih subur dibandingkan dengan gambut ombrogen.

 

Berdasarkan kedalamannya gambut dibedakan menjadi:

  • Gambut dangkal (50 – 100 cm),
  • Gambut sedang (100 – 200 cm),
  • Gambut dalam (200 – 300 cm), dan
  • Gambut sangat dalam (> 300 cm)

Berdasarkan proses dan lokasi pembentukannya, gambut dibagi menjadi:

  • Gambut pantai adalah gambut yang terbentuk dekat pantai laut dan mendapat pengayaan mineral dari air laut.
  • Gambut pedalaman adalah gambut yang terbentuk di daerah yang tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut tetapi hanya oleh air hujan.
  • Gambut transisi adalah gambut yang terbentuk di antara kedua wilayah tersebut, yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh air pasang laut.

 

2.1.3 Karakteristik Lahan Gambut

 

Gambut mempunyai karakteristik yang khas yang tidak dimiliki oleh jenis tanah yang lain. Sifat fisik yang dimiliki adalah mampu menyerap air yang sangat tinggi. Sebaliknya apabila dalam kondisi yang kering (kering berkelanjutan), gambut sangat ringan dengan berat volume yang sangat rendah (0,1-0,2 g/cm3) dan mempunyai sifat hidrofobik (sulit) menyerap air dan akan mengambang apabila terkena air. Pada kondisi demikian gambut dapat mengalami amblesan (subsidensi) dan mudah terbakar.

Sedangkan sifat kimianya, gambut sangat tergantung pada jenis tumbuhan yang membentuk gambut, keadaan tanah dasarnya, pengaruh luar (seperti endapan sungai/banjir, endapan vulkanis) dan sebagainya. Ada dua kriteria utama yang mempengaruhi sifat kimia gambut yaitu

  • sifat dan asal tanaman yang terombak dan
  • tingkat dekomposisi.

Secara umum gambut beraksi masam. Hal ini disebabkan oleh keluarnya asam-asam organik (humat dan fulvat). Hasil penelitian Suhardjo dan Adhi (1976), Pangudijatno (1984) gambut Riau mempunyai pH berkisar antara 3,5-4,7 dan Kalimantan mempunyai pH 3,3. Sedangkan kandungan N, C-total masing-masing berkisar antara 1,13-1,98% dan 49,8-54,11% (Riau), 1,44-1,80% dan 74,83-83,84% (Kalimantan). Selanjutnya kandungan P, K, Ca dan Mg sangat rendah.

Gambut di Indonesia (dan di daerah tropis lainnya) mempunyai kandungan lignin yang lebih tinggi dibandingkan dengan gambut yang berada di daerah beriklim sedang, karena terbentuk dari pohon-pohohan (Driessen dan Suhardjo, 1976). Lignin yang mengalami proses degradasi dalam keadaan anaerob akan terurai menjadi senyawa humat dan asam-asam fenolat (Kononova, 1968). Asam-asam fenolat dan derivatnya bersifat fitotoksik (meracuni tanaman) dan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat (Driessen, 1978; Stevenson, 1994; Rachim, 1995).

Asam fenolat merusak sel akar tanaman, sehingga asam-asam amino dan bahan lain mengalir keluar dari sel, menghambat pertumbuhan akar dan serapan hara sehingga pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, daun mengalami klorosis (menguning) dan pada akhirnya tanaman akan mati. Turunan asam fenolat yang bersifat fitotoksik antara lain adalah asam ferulat, siringat , p-hidroksibenzoat, vanilat, p-kumarat, sinapat, suksinat, propionat, butirat, dan tartrat (Dr. Wiwik Hartatik dan Dr. Diah Setyorini, komunikasi pribadi)

Karakteristik fisik gambut yang penting dalam pemanfaatannya untuk pertanian meliputi kadar air, berat isi (bulk density, BD), daya menahan beban (bearing capacity), subsiden (penurunan permukaan), dan mengering tidak balik (irriversible drying).

Kadar air tanah gambut berkisar antara 100 – 1.300% dari berat keringnya (Mutalib et al., 1991). Artinya bahwa gambut mampu menyerap air sampai 13 kali bobotnya. Dengan demikian, sampai batas tertentu, kubah gambut mampu mengalirkan air ke areal sekelilingnya. Kadar air yang tinggi menyebabkan BD menjadi rendah, gambut menjadi lembek dan daya menahan bebannya rendah (Nugroho, et al, 1997; Widjaja-Adhi, 1997). BD tanah gambut lapisan atas bervariasi antara 0,1 sampai 0,2 g cm-3 tergantung pada tingkat dekomposisinya. Gambut fibrik yang umumnya berada di lapisan bawah memiliki BD lebih rendah dari 0,1 g/cm3, tapi gambut pantai dan gambut di jalur aliran sungai bias memiliki BD > 0,2 g cm-3 (Tie and Lim, 1991) karena adanya pengaruh tanah mineral.

Volume gambut akan menyusut bila lahan gambut didrainase, sehingga terjadi penurunan permukaan tanah (subsiden). Selain karena penyusutan volume, subsiden juga terjadi karena adanya proses dekomposisi dan erosi. Dalam 2 tahun pertama setelah lahan gambut didrainase, laju subsiden bisa mencapai 50 cm. Pada tahun berikutnya laju subsiden sekitar 2 – 6 cm tahun-1 tergantung kematangan gambut dan kedalaman saluran drainase. Adanya subsiden bisa dilihat dari akar tanaman yang menggantung.

Rendahnya BD gambut menyebabkan daya menahan atau menyangga beban (bearing capacity) menjadi sangat rendah. Hal ini menyulitkan beroperasinya peralatan mekanisasi karena tanahnya yang empuk. Gambut juga tidak bias menahan pokok tanaman tahunan untuk berdiri tegak. Tanaman perkebunan seperti karet, kelapa sawit atau kelapa seringkali doyong atau bahkan roboh. Pertumbuhan seperti ini dianggap menguntungkan karena memudahkan bagi petani untuk memanen sawit.

Sifat fisik tanah gambut lainnya adalah sifat mengering tidak balik. Gambut yang telah mengering, dengan kadar air <100% (berdasarkan berat), tidak bias menyerap air lagi kalau dibasahi. Gambut yang mengering ini sifatnya sama dengan kayu kering yang mudah hanyut dibawa aliran air dan mudah terbakar dalam keadaan kering (Widjaja-Adhi, 1988). Gambut yang terbakar menghasilkan energi panas yang lebih besar dari kayu/arang terbakar. Gambut yang terbakar juga sulitndipadamkan dan apinya bisa merambat di bawah permukaan sehingga kebakaran lahan bisa meluas tidak terkendali.

 

 

2.2 Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Pertanian

 

Dalam pembangunan pertanian tanah gambut merupakan tanah yang paling banyak menarik perhatian. Keinginan pemerintah RI untuk mempertahankan kemandirian pangan seperti kemampuan swasembada beras tahun 1984, menyebabkan pemerintah mengembangkan Projek Lahan Gambut Sejuta Hektar di Kalimantan Tengah. Kebutuhan menghasilkan devisa dari ekspor hasil tanaman perkebunan seperti kelapa sawit juga telah memacu peningkatan pemanfaatan gambut di Indonesia.

 

2.2.1 Pengelolaan Gambut untuk Tanaman Semusim

Sesuai dengan arahan Departemen Pertanian (BB Litbang SDLP, 2008), lahan gambut yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman pangan disarankan pada gambut dangkal (< 100 cm). Dasar pertimbangannya adalah gambut dangkal memiliki tingkat kesuburan relatif lebih tinggi dan memiliki risiko lingkungan lebih rendah dibandingkan gambut dalam.

Lahan gambut dengan kedalaman 1,4 – 2 m tergolong sesuai marjinal (kelas kesesuaian S3) untuk berbagai jenis tanaman pangan. Faktor pembatas utama adalah kondisi media perakaran dan unsur hara yang tidak mendukung pertumbuhan tanaman. Tanaman pangan yang mampu beradaptasi antara lain padi, jagung, kedelai, ubikayu, kacang panjang dan berbagai jenis sayuran lainnya.

Untuk mengembangkan pertanian diperlukan banyak lahan yang harus dibuka dan diubah menjadi lahan pertanian, karena air merupakan faktor terpenting untuk perkembangan pertanian, maka perhatian terhadap lahan dataran rendah yang mengandung air, seperti lahan pasang surut, rawa dan gambut mendapat perhatian yang besar. Melihat keadaan lingkungan di masa depan yang amat terbatas kemampunanya untuk menghasilkan berbagai barang dan jasa, maka plasma nutfah yang tahan dengan berbagai lingkungan yang kurang menguntungkan di daerah gambut merupakan aset nasional yang penting bagi pembangunan masa depan.

  1. Tanaman Padi

Hasil penelitian Leiwakabessy dan Wahjudin (1979) Mengenai hubungan ketebalan gambut dengan hasil padi menunjukkan bahwa pada gambut tipis padi memberikan hasil yang cukup tinggi namun jika ditanam pada gambut tebal dengan ketebalan >60 cm. Maka hasil akan menurun.( lihat Tabel 1 ).

 

KETEBALAN GAMBUT ( cm )

HASIL ( Ton / Ha )

0 – 10

1,6 – 2,4

10 – 30

2,4 – 3,2

30 – 60

3,2 – 4,4

60 – 100

0,8 – 1,6

Leiwakabessy dan Wahjudin (1979)

 

Rendahnya hasil padi pada gambut tebal dapat diatasi jika tanaman padi diberi hara lengkap. Pada gambut yang tipis 0-10cm tanah relatip padat tidak gembur dan pembentukan perakaran padi dapat terganggu, kandungan hara tanah juga rendah dan tidak cukup memberikan hasil yang tinggi. Peningkatan ketebalan gambut sampai 60 cm, menyebabkan kesuburan gambut meningkat dan tanah gembur sehingga baik bagi pertumbuhan akar tanaman. Gambut tebal (>1m) belum berhasil dimanfaatkan untuk penanaman padi sawah, karena sejumlah kendala yang belum dapat diatasi. Keberhasilan budidaya padi sawah tergantung kesuksesan dalam mengatasi beberapa kendala seperti keberhasilan dalam : pengelolaan dan pengendalian air, penanganan sejumlah kendala fisik yang menjadi faktor pembatas, pengendalian sifat toksik dan kekurangan hara makro maupun mikro.

 

  1. Tanaman Palawija

Penanaman palawija di gambut umumnya dilakukan oleh petani untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka, tanaman jagung, kedelai, keladi, ubi kayu dan ubi rambat. Tingkat kemasaman tanah gambut yang sangat tinggi dan kesuburan tanah yang rendah merupakan masalah yang dihadapi petani palawija setelah mereka melakukan perbaikan drainase tanah gambut. Untuk meningkatkan kesuburan tanah petani memerlukan masukan abu bakaran, abu bakaran mereka dapatkan dari pembakaran semak belukar dan gambut, pembakaran dilakukan pada musim kemarau dan acap kali menimbulkan masalah asap yang mengganggu kesehatan, transportasi dan berbagai kegiatan masyarakat sekitar gambut. Polusi asap bahkan bergerak sampai kenegara tetangga.

Bahaya asap dari pembakaran gambut oleh petani palawija sulit dihentikan kecuali kesuburan gambut dapat ditingkatkan dengan input yang mudah dan murah. Beberapa upaya perbaikan kesuburan tanah telah dilakukan: pengapuran dan pemupukan dilakukan untuk meningkatkan pH, KB, dan hara tanaman; petani Kalbar sudah lama menggunakan abu kayu dan pukan ayam untuk tanaman sayuran mereka; Tim Fakultas Pertanian IPB (1986) menggunakan masukan tanah mineral, dolomit dan pupuk lengkap untuk memperbaiki kesuburan gambut di Bereng Bengkel; Setiadi (1996) mempergunakan abu vulkan yang dikemas dalam pupuk gambut PUGAS untuk meningkatkan produksi kedelai digambut; Sabiham (1993) memanfaatkan lumpur sungai dan lumpur laut untuk menyehatkan gambut dengan menekan pengaruh meracun dari senyawa-senyawa fenolat yang meracuni tanaman. Penggunaan lumpur laut dapat meningkatkan pH, KB gambut dan hasil kedelai (Sagiman dan Pujianto, 1995), untuk meningkatkan kandungan nitrogen dan produksi kedelai Sagiman(2001) berhasil menseleksi dan memanfaatkan isolate bakteri bintil akar efektif asal gambut guna meningkatkan hasil kedelai pada gambut yang diberi masukan lumpur laut.

Tanaman jagung akan dapat memberikan hasil yang memuaskan jika gambut diberi masukan abu bakar, pukan ayam dan pupuk kimia. Tanpa input yang memadai jagung tidak dapat memberikan hasil yang tinggi. Petani suku Madura lebih menyenangi jagung lokal dan menanam jagung tanpa input kecuali abu bakar yang dihasilkan dengan membakar semak belukar dan lahan pada musim kemarau. Tanaman keladi merupakan tanaman yang sangat cocok pada tanah gambut, dengan sedikit masukan abu bakar atau tanah bakar petani dapat menghasilkan keladi yang cukup baik pada saat tanaman berumur 10 sampai 12 bulan.

 

  1. Tanaman Hortikultura

Tanaman hortikultura merupakan tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan umumnya sesuai dengan gambut pada berbagai tingkat ketebalan tanah, bahkan petani lebih menyukai gambut dalam (> 3 m) karena pada musim kemarau petani masih dapat menyirami sayuran mereka karena air gambut masih tersedia untuk penyiraman tanaman. Pada gambut dangkal atau sedang penyiraman tanaman di musim kemarau sulit dilakukan, karena air gambut mengering dan sumber air jauh dari kebun.

Cukup banyak jenis sayuran tropis dataran rendah yang dapat diusahakan di gambut adalah jenis sawi, kailan, bayam, kangkung, cabe, seledri, kucai, daun bawang, kacang panjang, kacang buncis, kacang mia, terong, tomat, labu, labu kuning, gambas, dll. Pertanian sayuran merupakan pertanian intensif mengandalkan masukan yang sedang berupa: abu bakaran, pupuk kandang ayam, pupuk kimia, kulit udang, limbah ikan asin, dan pestisida.

Kendala utama yang dirasakan petani sayur dilahan gambut adalah rendahnya kesuburan gambut. Oleh karena itu petani memanfaatkan abu bakar untuk meningkatkan pH dan hara bagi tanaman, penambahan hara dilakukan dengan penambahan pukan ayam, dan pupuk kimia. Sejak beberapa tahun yang silam petani telah menggunakan abu kayu (abu sawmill) untuk memperbaiki kesuburan tanah, namun karena langkanya kayu maka sebagian besar pabrik penggergajian kayu dan kayu lapis tidak bekerja lagi, sehingga ketersediaan abu sawmill menjadi langka. Untuk mengganti abu kayu mereka membakar sampah kebun (gulma dan kayu asal gambut), pembakaran dilakukan secara terkendali (di pondok bakar) sepanjang waktu sehingga tidak terjadi akumulasi asap seperti pada musim kemarau.

Tanaman buah yang diusahakan adalah pepaya, semangka dan nenas. Untuk memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan hasil pepaya dan semangka maka pada tanah gambut diberikan abu bakar, pukan ayam dan pupuk kimia. Tanpa input tersebut tanaman tidak dapat memberikan hasil. Berbeda dengan tanaman semangka dan pepaya, tanaman nenas merupakan tanaman yang sangat cocok pada tanah gambut, tanaman dapat memberikan hasil dengan baik sekalipun tidak dilakukan pemupukan dan pengendalian hama penyakit. Oleh sebab itu petani nenas tidak melakukan pemupukan pada tanaman nenas.

 

  1. Pengelolaan air

Budidaya tanaman pangan di lahan gambut harus menerapkan teknologi pengelolaan air, yang disesuaikan dengan karakteristik gambut dan jenis tanaman. Pembuatan saluran drainase mikro sedalam 10 – 50 cm diperlukan untuk pertumbuhan berbagai jenis tanaman pangan pada lahan gambut. Tanaman padi sawah pada lahan gambut hanya memerlukan parit sedalam 10-30 cm. Fungsi drainase adalah untuk membuang kelebihan air, menciptakan keadaan tidak jenuh untuk pernapasan akar tanaman, dan mencuci sebagian asam-asam organik. Semakin pendek interval / jarak antar parit drainase maka hasil tanaman semakin tinggi. Walaupun drainase penting untuk pertumbuhan tanaman, namun semakin dalam saluran drainase akan semakin cepat laju subsiden dan dekomposisi gambut.

 

  1. Pengelolaan kesuburan tanah

Tanah gambut bereaksi masam. Dengan demikian diperlukan upaya ameliorasi untuk meningkatkan pH sehingga memperbaiki media perakaran tanaman. Kapur, tanah mineral, pupuk kandang dan abu sisa pembakaran dapat diberikan sebagai bahan amelioran untuk meningkatkan pH dan basa-basa tanah (Subiksa et al, 1997; Mario, 2002; Salampak, 1999; ).

Tidak seperti tanah mineral, pH tanah gambut cukup ditingkatkan sampai pH 5 saja karena gambut tidak memiliki potensi Al yang beracun. Peningkatan pH sampai tidak lebih dari 5 dapat memperlambat laju dekomposisi gambut. Pengaruh buruk asam-asam organik beracun juga dapat dikurangi dengan menambahkan bahan-bahan amelioran yang banyak mengandung kation polivalen seperti terak baja, tanah mineral laterit atau lumpur sungai (Salampak, 1999; Sabiham et al, 1997). Pemberian tanah mineral berkadar besi tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi (Mario, 2002; Salampak, 1999; Suastika, 2004; Subiksa et al., 1997).

 

 

 

Tabel 2. Dosis anjuran dan manfaat pemberian amelioran pada tanah gambut.

Jenis ameliorant Dosis (t ha-1 tahun-1)

 

Manfaat
Kapur 1 – 2 Meningkatkan basa-basa dan pH tanah
Pupuk kandang 5 – 10 Memperkaya unsur hara makro/mikro
Terak baja 2 – 5 Mengurangi fitotoksik asam organik, meningkatkan efisiensi pupuk P
Tanah mineral 10 – 20 Mengurangi fitotoksik asam organik, meningkatkan kadar hara makro/mikro
Abu 10 – 20 Meningkatkan basa-basa, dan pH tanah
Lumpur sungai 10 – 20 Mengurangi fitotoksik asam organik, meningkatkan basa-basa, unsur hara

Keterangan: Bebarapa amelioran dapat menggantikan fungsi amelioran lainnya. Misalnya,

dengan pemberian kapur, pemberian abu dapat dikurangi dan sebaliknya.

 

Pemupukan sangat dibutuhkan karena kandungan hara gambut sangat rendah. Jenis pupuk yang diperlukan adalah yang mengandung N, P, K, Ca dan Mg. Walaupun KTK gambut tinggi, namun daya pegangnya rendah terhadap kation yang dapat dipertukarkan sehingga pemupukan harus dilakukan beberapa kali (split application) dengan dosis rendah agar hara tidak banyak tercuci.

Penggunaan pupuk yang tersedianya lambat seperti fosfat alam akan lebih baik dibandingkan dengan SP36, karena akan lebih efisien, harganya murah dan dapat meningkatkan pH tanah (Subiksa et al., 1991). Penambahan kation polivalen seperti Fe dan Al akan menciptakan tapak jerapan bagi ion fosfat sehingga bisa mengurangi kehilangan hara P melalui pencucian (Rachim, 1995) Tanah gambut juga kahat unsur mikro karena dikhelat (diikat) oleh bahan organik (Rachim, 1995). Oleh karenanya diperlukan pemupukan unsur mikro seperti terusi, magnesium sulfat dan seng sulfat masing-masing 15 kg ha-1 tahun-1, mangan sulfat 7 kg ha-1 tahun-1, sodium molibdat dan borax masing-masing 0,5 kg ha-1 tahun-1. Kekurangan unsur mikro dapat menyebabkan kehampaan pada tanaman padi, tongkol kosong pada jagung atau polong hampa pada kacang tanah.

 

2.2.2 Pengelolaan Gambut untuk Tanaman Tahunan

Lahan gambut dengan ketebalan antara 1,4-2 m tergolong sesuai marjinal (kelas kesesuaian S3) untuk beberapa tanaman tahunan seperti karet dan kelapa sawit, sedangkan gambut yang tipis termasuk agak sesuai (kelas kesesuaian S2). Gambut dengan ketebalan 2-3 m tidak sesuai untuk tanaman tahunan kecuali jika ada sisipan / pengkayaan lapisan tanah atau lumpur mineral (Djainudin et al., 2003).Gambut dengan ketebalan >3m diperuntukkan sebagai kawasan konservasi sesuai dengan Keputusan Presiden No. 32/1990. Hal ini disebabkan kondisi lingkungan lahan gambut dalam yang rapuh (fragile) apabila dikonversi menjadi lahan pertanian.

 

  1. Tanaman Perkebunan

Budidaya kelapa dan karet di lahan gambut umumnya dikembangkan petani dengan masukan yang rendah. Hambatan utama adalah drainase, kesuburan tanah rendah dan daya dukung tanah yang rendah sehingga tanaman mudah rebah. Pembukaan parit drainase merupakan pekerjaan awal dari pembangunan kebun kelapa ataupun karet rakyat. Perkebunan rakyat diusahakan dengan masukan yang rendah, upaya perbaikan kesuburan tanah seperti pengapuran dan pemupukan jarang dilakukan petani dan bibit yang dipakai umumnya bibit lokal.

Budidaya perkebunan Kelapa sawit berskala besar telah dikembangkan di lahan gambut Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan, pembangunan kebun dilakukun pada gambut dengan ketebalan antara 1- 5 meter. Produksi tanaman di lahan gambut bervariasi sekitar 12 t/ha – 25 ton/ha (Sagiman, 2005).

Tanaman sagu juga dapat diusahakan pada daerah gambut tipis sampai sedang. Di Kalbar sebagian tanaman sagu diusahakan pada lahan gambut tipis sampai sedang di sepanjang tepi sungai. Penelitian yang dilakukan Sagiman dkk (2004) pada kebun sagu di Sungai Ambangah Kab. Pontianak menunjukkan bahwa produksi pati yang dapat dicapai oleh tanaman adalah 108 kg perbatang. Kebun sagu rakyat di Sungai Ambangah tidak teratur dan tidak mengenal pemupukan, Sagu ditanam sejak jaman pendudukan Jepang dan telah berumur lebih dari 60 tahun. Dengan pengelolaan yang lebih baik hasil sagu perbatang di gambut Serawak dapat lebih tinggi yaitu mencapai 164 kg perbatang (Haska, 1998).

 

  1. Pengelolaan air

Reklamasi gambut untuk pertanian tanaman tahunan memerlukan jaringan drainase makro yang dapat mengendalikan tata air dalam satu wilayah dan drainase mikro untuk mengendalikan tata air di tingkat lahan. Sistem drainase yang tepat dan benar sangat diperlukan pada lahan gambut, baik untuk tanaman pangan maupun perkebunan. Sistem drainase yang tidak tepat akan mempercepat kerusakan lahan gambut.

Salah satu komponen penting dalam pengaturan tata air lahan gambut adalah bangunan pengendali berupa pintu air di setiap saluran. Pintu air berfungsi untuk mengatur muka air tanah supaya tidak terlalu dangkal dan tidak terlalu dalam.

Tanaman tahunan memerlukan saluran drainase dengan kedalaman berbeda-beda. Tanaman karet memerlukan saluran drainase mikro sekitar 20 cm, tanaman kelapa sedalam 30-50 cm, sedangkan tanaman kelapa sawit memerlukan saluran drainase sedalam 50-80 cm. Gambut yang relatif tipis (<100 cm) dan subur juga dapat ditanami dengan tanaman kopi dan kakao dengan saluran drainase sedalam 30-50 cm.

Semakin dalam saluran drainase semakin cepat terjadi penurunan permukaan (subsiden) dan dekomposisi gambut sehingga ketebalan gambut akan cepat berkurang dan daya sangganya terhadap air menjadi menurun.

Jika lahan gambut digunakan untuk perkebunan sagu atau nipah, pembuatan saluran drainase tidak diperlukan karena kedua jenis tanaman ini merupakan tanaman rawa yang toleran terhadap genangan. Sagu dapat menjadi alternatif tanaman sumber karbohidrat selain beras. Tanaman nipah menghasilkan nira, bahan baku gula dengan rendemen tinggi dan kualitas yang tidak kalah dibandingkan gula aren.

 

  1. Pengelolaan kesuburan tanah

Unsur hara utama yang perlu ditambahkan untuk berbagai tanaman tahunan di lahan gambut terutama adalah unsur P dan K. Tanpa unsur tersebut pertumbuhan tanaman sangat merana dan hasil tanaman yang diperoleh sangat rendah. Sedangkan unsur hara lainnya seperti N dibutuhkan dalam jumlah yang relative rendah karena bisa tersedia dari proses dekomposisi gambut.

 

Upaya pengembangan gambut sebagai lahan pertanian diperlukan beberapa upaya untuk:

  • Mempercepat kematangan.
  • Meningkatkan kejenuhan basa, antara lain dengan memberikan dolomit, tanah mineral dan pasir atau kombinasi.
  • Mencari jenis dan varietas tanaman serta pola tanamnya yang cocok.

Beberapa tanaman pangan menunjukkan hasil yang kurang baik di daerah gambut, klorosis pada tanaman kelapa sawit, kopi dan coklat adalah gejala kekurangan unsur  mikro Cu atau Zn.

Tidak seluruh hutan gambut boleh diubah fungsinya, melainkan harus ada strategi dalam pemanfaatan hutan gambut. Untuk itu diperlukan beberapa strategi dalam pemanfaatan lahan gambut agar tidak merubah lingkungan secara drastis, karena dampak negatif yang ditimbulkan dengan pembukaan hutan rawa yaitu

  • Hilangnya berbagai jenis flora dan fauna spesifik gambut.
  • Rusaknya habitat dan tempat mencari makan beberapa jenis fauna.
  • Kemungkinan timbulnya intrusi air asin dari laut lewat saluran-saluran yang dibangun.
  • Kenaikan keasaman tanah secara mencolok sebagai akibat teroksidasinya pirit.
  • Timbulnya banjir di daerah hilir.
  • Keterbatasan sumber air bersih khususnya untuk kebutuhan air minum.
  • Secara global, berkurangnya kandungan oksigen di udara sebagai akibat semakin berkurangnya areal hutan.
  • Terjadinya penurunan muka tanah sebagai akibat proses dekomposisi dan pemanfaatan tanah (Budianta, 2003).

Oleh karena hutan gambut merupakan ekosistem yang fragil maka setiap pemgembangan dan pemanfaatan memerlukan perencanaan yang teliti, penerapan teknologi yang sesuai dan pengelolaan yang tepat. Untuk itu strategi yang dapat diusulkan adalah pendekatan konservasi, kawasan non budidaya, pendekatan tampung hujan, pendekatan agro-manajemen terpadu dan pendekatan teknik budadiya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kebutuhan pangan yang terus menerus meningkat untuk penduduk Indonesia dan semakin terbatasnya sumberdaya lahan pertanian yang ada di negara ini menyebabkan pemerintah berupaya memanfaatkan lahan-lahan marginal yang masih tersedia. Gambut merupakan pilihan yang ditetapkan sejak tahun 70an, yaitu untuk pemukiman transmigrasi baik di pulau Kalimantan maupun Sumatera. Perhatian pemerintah dan para peneliti kepada lahan gambut tampaknya lebih besar dari jenis tanah lainnya. Seiring dengan perhatian kepada gambut untuk pertanian maka perkembangan pengetahuan akan gambut semakin bertambah, namun masalah yang ditemukan dalam pemanfaatan gambut juga tidak sederhana.

Kenyataan di lapangan daerah gambut mempunyai aksesibilitas yang sangat rendah, karena gambut di Indonesia umumnya dijumpai di daerah rawa-rawa yang bersifat marjinal dan sulit dijangkau. Namun demikian gambut dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia yaitu sebagai lahan pertanian, perkebunan dan sumber energi. Selain itu, gambut juga mempunyai fungsi ekologis dalam menjaga perubahan iklim dunia dan menjaga fungsi hidrologi.

Dilain pihak gambut mempunyai sifat yang unik yaitu bersifat fragil dengan kesuburan yang sangat jelek, sehingga sekali dibuka akan merubah ekosistem gambut dan untuk memulihkan ke ekosistem semula memerlukan waktu yang sangat lama.

Untuk itu, dalam pemanfaatan gambut agar lestari dan berkelanjutan serta meminimalkan risiko kegagalan harus menerapkan beberapa strategi yaitu dengan melalui beberapa model pendekatan dan konsep antara lain pendekaan konservasi, kawasan non budidaya, pendekatan tampung hujan, pendekatan agro-manajemen terpadu dan pendekatan teknik budidaya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian gambut dapat dimanfaatkan untuk pertanian secara menguntungkan dan berkelanjutan, namun di lokasi lain peneliti dan petani masih kesulitan mencari metode pertanian yang tepat dan menguntungkan, bahkan usahatani yang mereka lakukan terkesan menyebabkan kerusakan lingkungan dan menimbulkan polusi asap.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Andriesse, J.P. 1994. Constrainsts and opportunities for alternative use options of tropical peat land. In B.Y. Aminuddin (Ed.). Tropical Peat; Proceedings of International Symposium on Tropical Peatland, 6-10 May 1991, Kuching, Sarawak, Malaysia.

 

BB Litbang SDLP (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 2008. Laporan tahunan 2008, Konsorsium penelitian dan pengembangan perubahan iklim pada sektor pertanian. Balai Pesar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor.

 

Budianta, D. 2003. Strategi pengelolaan lahan rawa pasang surut untuk mendukung otonomi daerah di Sumatera Selatan. Makalah disampaikan pada seminar Lokakarya Nasional Ketahanan Pangan Dalam Era Otonomi Daerah. Palembang, 2-4 Maret 2003.

 

Darmawidjaja, M.I. 1980. Klasifikasi tanah. BPTK Gambung, Bandung. P. 182-188.

 

Diemont, W.H. and L.J. Pons. 1991. A preliminary note on peat formation and gleying in Mahakam inland floodplain, East kalimantan, Indonesia. Proc. International Symposium on Tropical Peatland. 6-10 May 1991, Kuching, Serawak, Malaysia.

 

Djainudin, D., Marwan H., Subagjo H., dan A. Hidayat. 2003. Petunjuk Teknis Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian. Balai Penelitian Tanah, Bogor.

 

Driessen, P.M., dan H. Suhardjo. 1976. On the defective grain formation of sawah rice on peat. Soil Res. Inst. Bull. 3: 20 – 44. Bogor.

 

Hardjowigeno, S. 1986. Sumber daya fisik wilayah dan tata guna lahan: Histosol. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Hal. 86-94.

 

Haska,N.1998. Prospek gambut untuk sagu. Prosiding seminar nasional gambut III. Kerjasama HGI, UNTAN, Pemda Tingkat I Kalbar, dan BPPT. Pontianak, 24-25 Maret 1997.

 

Leiwakabessy,F.M. dan M.Wahjudin.1979. Ketebalan gambut dan produksi padi. Proseding Simposium III. Pengembangan Daerah Pasang Surut di Indonesia. Palembang 5 – 9 Februari 1979.

 

Mario, M.D. 2002. Peningkatan produktivitas dan stabilitas tanah gambut dengan pemberian tanah mineral yang diperkaya oleh bahan berkadar besi tinggi. Disertasi Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Mutalib, A.Aa, J.S. Lim, M.H. Wong and L. Koonvai. 1991. Characterization, distribution and utilization of peat in Malaysia. Proc. International Symposium on tropical peatland. 6-10 May 1991, Kuching, Serawak, Malaysia.

 

Pangudijatno, G. 1984. Potensi tanah gambut bagi tanaman perkebunan. Menara Perkebunan 52(4a):113-118.

 

Rachim, A. 1995. Penggunaan kation-kation polivalen dalam kaitannya dengan ketersediaan fosfat untuk meningkatkan produksi jagung pada tanah gambut. Disertasi. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

 

Sabiham, S. 1993. Pemanfaatan lumpur daerah rawa pasang surut sebagai salah satu alternatif dalam menurunkan gas methan dan asam phenol pada gambut tebal. Pp.267- 280. Dalam S.triutomo, B.Setiadi, B.Nurachman, D.Mulyono, E.Nursahid dan Kasiran (Eds.). Prosiding Seminar Nasional Gambut II. Jakarta 14-15. Januari, 1993.

 

Sabiham, S., TB, Prasetyo and S. Dohong. 1997. Phenolic acid in Indonesian peat. In: Rieley and Page (Eds.). pp. 289-292. Biodiversity and sustainability of tropical peat and peatland. Samara Publishing Ltd. Cardigan. UK.

 

Sagiman, S. 2001. Peningkatan produksi kelelai di tanah gambut melalui inokulasi Bradyrhizobium japonicum asal tanah gambut dan pemanfaatan bahan ameliorant (lumpur dan kapur). Disertasi Doktor Program Pasca Sarjana IPB.

 

Sagiman,S. 2005. Pertanian di lahan gambut berbasis pasar dan lingkungan, sebuah pengalaman pertanian gambut dari Kalbar. Workshop gambut HGI. Palangkaraya 20-21 Sept 2005.

 

Sagiman, S. 2004. Prospek sagu (Metroxylon sp) dalam penganeka ragaman pangan. Prosiding Seminar Pemantapan Road Map Penganekaragaman Pangan, kerja sama IPB, UNTAN dan Bogasari Nugraha VII-2004. Pontianak 15- Mei 2004.

 

Sagiman,S. dan Pujianto. 1994. Lumpur laut sebagai pembenah gambut untuk produksi tanaman kedelai. Seminar Nasional 25 tahun pemanfaatan gambut dan pengembangan kawasan pasang surut. BPPT. Jakarta. 14-15 Desember, 1994.

 

Salampak. 1999. Peningkatan produktivitas tanah gambut yang disawahkan dengan pemberian bahan amelioran tanah mineral berkadar besi tinggi. Disertasi Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

 

Setiadi.B. 1996. Tehnologi pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian. Seminar pengembangan tehnologi berwawasan lingkungan untuk pertanian pada lahan gambut. Dalam rangka peringatan Dies Natalis ke 33 IPB. Bogor, 26 Sept. 1996.

 

Soepratohardjo, M. and P.M. Driessen. 1976. The lowland peats of Indonesia a challane for future. In Soil Research Institute. 1976. Peat aand Podzolic Soil and Their Potential for Agriculture in Indonesia. p. 11-19.

Soil Survey Staff. 2003. Key to Soil taxonomy. 9th Edition. United States Department of Agriculture. Natural Resources Conservation Service.

 

Stevenson, F.J. 1994. Humus Chemistry. Genesis, Composition, and Reactions. John Wiley and Sons. Inc. New York. 443 p.

 

Suastika, I W. 2004. Efektivitas amelioran tanah mineral berpirit yang telah diturunkan kadar sulfatnya pada peningkatan produktivitas tanah gambut. Tesis S2. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

 

Subiksa, IGM., Didi Ardi dan IPG. Widjaja Adhi. 1991. Pembandingan pengaruh Palam dan TSP pada tanah sulfat masam (Typic Sulfaquent) Karang Agung Ulu Sumatera Selatan. Prosiding Pertemuan Pembahasan Hasil Penelitian Tanah, 3-5 Juni 1991, Cipayung, Jawa Barat.

 

Subiksa, IGM., K. Nugroho, Sholeh and IPG. Widjaja Adhi. 1997. The effect of ameliorants on the chemical properties and productivity of peat soil. In: Rieley and Page (Eds). Pp:321-326. Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands.Samara Publishing Limited, UK.

 

Suhardjo, H. and I P.G. Widjaja-Adhi. 1976. Chemical characteristics of the upper 30 cm of peat soils from Riau. ATA 106. Bull. 3: 74-92. Soil Res. Inst. Bogor.

 

Tie, Y.L. and J.S. Esterle. 1991. Formation of lowland peat domes in Serawak, Malaysia. Proc. International Symposium on Tropical Peatland. 6-10 May 1991, Kuching, Serawak, Malaysia.

 

Tie, Y.L. and J.S. Lim. 1991. Characteristics and classification of organic soils in Malaysia. Proc. International Symposium on tropical peatland. 6-10 May 1991, Kuching, Serawak, Malaysia.

 

Widjaya Adhi, IPG. 1988.. Physical and chemical characteristic of peat soils of Indonesia. IARD. Journal 10(3).

 

Wirjodiharjo, M.W. and T. K. Hong. 1950. Ilmu Tanah III. Tanah, Pembentukannya, Susunannya dan Pembagiannya. FP. IPB. Bogor. P. 457-479.

 

WWF. 2008. Deforestation, forest degradation, biodiversity loss and CO2 emision in Riau, Sumatera, Indonesia: one Indonesian propinve’s forest and peat soil carbon loss over a quarter century and it’s plans for the future. WWF Indonesia Tecnical Report. www.wwf.or.id.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s