KTA (Bentuk dan Penanggulangan Erosi)

Posted: 06/11/2011 in kuliahku

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pada mulanya lahan–lahan di Indonesia merupakan hutan tropika yang sangat subur dan lebat yang dapat kita jumpai dimana–mana dan memberikan manfaat banyak bagi kebutuhan hidup manusia. Seiring dengan bertambahnya penduduk menyebabkan bertambahnya pula kebutuhan akan sandang, pangan dan papan. Untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan tersebut manusia menggunakan lahan sebagai sumbernya maka terjadilah penggunaan lahan yang diolah secara benar maupun secara serampangan tanpa memperhatikan kemampuan lahan yang terbatas dan akibat yang akan ditimbulkannya (Supli Effendi Rahim, 2000). Akibat dari penggunaan lahan yang tidak tepat dan merupakan salah satu proses geomorfologi yang bekerja

dari satuan bentuk adalah terjadinya erosi.

Erosi adalah terlepasnya lapisan-lapisan atau partikel–partikel tanah dari satu tempat ke tempat lain oleh tenaga geologi meliputi air dan angin (Sitanala Arsyad, 1989). Menurut bentuknya, erosi ada lima antara lain erosi percik, erosi lembar, erosi alur, erosi parit dan erosi tebing sungai. Menurut prosesnya, erosi dibagi menjadi dua yaitu erosi alami adalah proses pengangkutan tanah yang terjadi dibawah keadan vegetasi alami tanpa adanya campur tangan manusia dan erosi dipercepat adalah pengangkutan tanah yang menimbulkan kerusakan tanah sebagai akibat perbuatan manusia yang mengganggu keseimbangan antara proses pembentukan dan pengangkutan tanah, sehingga membutuhkan waktu cukup lama (Sitanala Arsyad, 1989).

Pada kenyataaannya erosi pasti akan berlangsung baik di dataran dengan topografi miring ataupun bertopografi datar hanya saja ada batasan tentang laju eosi yang diperbolehkan (Edp). Laju erosi tanah yang diperbolehkan secara sederhana dinyatakan sebagai suatu laju yang tidak boleh melebihi laju pembentukan tanah (Supli Efendi Rahim, 2000). Di mana untuk setiap negara laju erosi tanah yang diperbolehkan sangat tergantung pada profil lereng dan tingkat kesuburan tanah itu sendiri. Secara umum Edp (Erosi yang diperbolehkan) untuk kebanyakan tanah di Indonesia adalah 2,5 mm/tahun atau setara dengan 25 ton/ha/tahun untuk lahan perbukitan atau miring (Supli Efendi Rahim, 2000)

1.2  Perumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini adalah :

  1. Apa saja bentuk erosi itu.?
  2. Bagaiman cara menanggulangi erosi ?

1.3  Tujuan Penelitian

Tujuan dari makalah ini adalah :

  1. Mengetahui bentuk – bentuk erosi ?
  2. Mengetahui cara penanggulangan erosi ?

ISI

Pengertian dan Bentuk – Bentuk Erosi

Di daerah tropis, seperti di negara kita mempunyai curah hujan tinggi sehingga erosi yang disebabkan oleh angin tidak begitu banyak terjadi. Erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Tanah yang terangkut tersebut akan diendapkan di tempat lain: didalam sungai, waduk, danau, saluran irigasi dan sebagainya.

Berbicara tentang erosi, maka tidak lepas dari aliran permukaan. Dengan adanya aliran air di atas permukaan tanah, tanah dapat terkikis dan selanjutnya diangkut ke tempat yang lebih rendah. Dengan demikian terjadilah perpindahan lapisan tanah; mineral-mineral dan bahan organik yang terdapat pada permukaan tanah (Sjahrullah, 1987).
Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat yang diangkut oleh media alami ketempat lain (Arsyad, 1989).

Ada dua macam erosi, yaitu erosi normal dan erosi dipercepat. Erosi normal juga disebut erosi geologi atau erosi alami merupakan proses-proses pengangkutan tanah yang terjadi dibawah keadaan vegetasi alami. Biasanya terjadi dengan laju yang lambat yang memungkinkan terbentuknya tanah yang tebal yang mampu mendukung pertumbuhan vegetasi secara normal. Erosi dipercepat adalah pengangkutan tanah yang menimbulkan kerusakan tanah sebagai akibat perbuatan manusia yang mengganggu keseimbangan antara proses pembentukan dan pengangkutan tanah (Arsyad, 1989).

1. Erosi Normal (normal erosion) adalah erosi yang terjadi secara alami bergantung pada faktor-faktor geologi yang mempengaruhinya. Erosi ini berlangsung secara normal dilapangan tanpa adanya campur tangan manusia. Keberlangsungan erosi ini melalui tiga tahayaitu:

Pertama, agregat-agregat tanah mengalami pemecahan sehingga terbentuklah butiran-butiran tanah yang relatif kecil dibanding sebelumnya.
Kedua, terjadi pemindahan partikel tanah yang lebih kecil tadi melalui penghanyutan dan atau karena kekuatan angin.
Ketiga, setelah hanyut terbawa air atau angin maka partikel tanah tersebut diendapkan pada tempat yang lebih rendah ataupun didasar sungai.
Erosi normal biasanya tidak banyak membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia juga bagi keseimbangan alam. Biasanya terjadinya dalam intensitas kecil saja, karena partikel yang terangkut seimbang dengan banyaknya jumlah tanah yang terbentuk pada daerah yang lebih rendah itu.

2. Erosi Dipercepat (accelerated erosion)

Didalam proses erosi ini dipengaruhi oleh kegiatan manusia yang melakukan tindakan terhadap kondisi tanah. Tindakan tersebut bersifat negatif atau telah melakukan kesalahan dalam pengelolaan tanah dan lahan pertaniannya. Oleh karena itu manusia dalam hal ini berperan membantu terjadinya erosi dipercepat. Biasanya erosi ini menimbulkan ketidakseimbangan antara tanah yang terangkut ke daerah yang rendah dengan pembentukan tanah. Tanah yang terpindahkan jauh lebih besar jumlahnya daripada tanah yang baru terbentuk, sehingga akan membawa malapetaka yang karena memang lingkungannya telah mengalami kerusakan-kerusakan, menimbulkan kerugian besar seperti banjir, longsor, kekeringan, ataupun turunnya produktifitas tanah. Untuk itu perlu adanya penanggulangan dari kita sendiri maupun dari pemerintah dengan cara penanaman pohon pelindung dalam upaya reboisasi, sehingga selanjutnya tinggal lapisan bawah tanah (sub soil) yang belum matang itu.
Pada lingkungan DAS, laju erosi dikendalikan oleh kecepatan aliran air dan sifat sedimen (terutama ukuran butirnya). Stres yang bekerja pada permukaan tanah atau dasar perairan sebanding dengan kecepatan aliran. Resistensi tanah atau sedimen untuk bergerak sebanding dengan ukuran butirnya. Gaya pembangkit eksternal yang menimbulkan erosi adalah curah hujan dan aliran air pada lereng DAS. Curah hujan yang tinggi dan lereng DAS yang miring merupakan faktor utama yang membangkitkan erosi. Pertahanan DAS terhadap erosi tergantung utamanya pada tutupan lahan. Penguatan pertahanan terhadap erosi dapat pula dilakukan dengan upaya-upaya kerekayasaan.
Erosi yang terjadi pada setiap wilayah akan berbeda beda tergantung dari kondisi iklim dan faktor lain yang akan dijelaskan pada bahasan selanjutnya. Indonesia tergolong daerah yang beriklim tropis lembab, sehingga erosi yang terjadi disebabkan karena penghanyutan oleh air. Ini berdasarkan data rata-rata curah hujan di Indonesia yang melebihi 1500mm/tahun. Sedangkan pada daerah yang beriklim tropis kering agen utama yang mempengaruhi erosi adalah angin. Untuk Indonesia sendiri, akibat dari erosi banyak terjadi diberbagai daerah dengan macam-macam bentuknya.
Erosi dipercepat dapat menimbulkan berbagai masalah antara lain (Arsyad, 1989; dalam Nasiah 2000) sebagai berikut :

a. Merosotnya peroduktivitas tanah pada lahan yang tererosi, yang disertai dengan merosotnya daya dukung serta kualitas lingkungan hidup.

b. Sungai, waduk, dan saluran irigasi/drainase di daerah hilir menjadi dangkal, sehingga daya guna dan basil guna berkurang.

c. Secara tidak langsung mengakibatkan terjadinya banjir yang kronis pada setiap musim penghijauan dan kekeringan pada musim kemarau.

d. Dapat menghilangkan fungsi hidrologi tanah.

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Erosi
Begitu besarnya bahaya erosi yang pada akhirnya merugikan kehidupan manusia, oleh karena itu beberapa ahli membagi faktor-faktor yang menjadi penyebab erosi dan berupaya untuk menanggulanginya. Menurut (Rahim, 2000) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi erosi adalah

  1. Energi, yang meliputi hujan, air limpasan, angin, kemiringan dan panjang lereng,
  2. Ketahanan; erodibilitas tanah (ditentukan oleh sifat fisik dan kimia tanah), dan
  3. Proteksi, penutupan tanah baik oleh vegetasi atau lainnya serta ada atau tidaknya tindakan konservasi.

Morgan (1979) dalam Nasiah (2000) menyatakan bahwa kemampuan mengerosi, agen erosi, kepekaan erosi dari tanah, kemiringan lereng, dan keadaan alami dari tanaman penutup tanah merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap erosi tanah. Erosi adalah akibat interaksi kerja antara faktor-faktor iklim, topografi, tumbuh-tumbuhan (vegetasi), dan manusia terhadap tanah (Arsyad, 1989) yang dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

E = f ( i.r.v.t.m )

Dimana :
E = Erosi

i = Iklim

v = Vegetasi

m = Manusia

f = fungsi

r = Topografi

t = Tanah

a. Iklim

Iklim merupakan faktor terpenting dalam masalah erosi sehubungan dengan fungsinya. Sebagai agen pemecah dan transpor. Faktor iklim yang mempengaruhi erosi adalah hujan (Arsyad 1989). Banyaknya curah hujan, intensitas dan distribusi hujan menentukan dispersi hujan tehadap tanah, jumlah dan kecepatan permukaaan serta besarnya kerusakan erosi. Angin adalah faktor lain yang menentukan kecepatan jatuh butir hujan. Angin selain sebagai agen transport dalam erosi di beberapa kawasan juga bersama-sama dengan temperatur, kelambaban dan penyinaran matahari berpengaruh terhadap evapotranspirasi, sehingga mengurangi kandungan air dalam tanah yang berarti memperbesar kembali kapasitas infiltrasi tanah.

b. Topografi

Kemiringan dan panjang lereng adalah dua faktor yang menentukan karakteristik topografi suatu daerah aliran sungai. Kedua faktor tersebut penting untuk terjadinya erosi karena faktor-faktor tersebut menentukan besarnya kecepatan dan volume air larian (Asdak, 1995). Kemiringan Lereng dinyatakan dalam derajat atau persen. Dua titik yang berjarak horizontal 100 meter mempunyai selisih tinggi 10 meter membentuk lereng 10 persen. Kecuraman lereng 100 persen sama dengan kecuraman 45 derajat. Semakin curam lereng semakin memperbesar jumlah dan kecepatan aliran permukaan sehingga memperbesar energi angkut air. Dengan semakin miring lereng maka jumlah butir-butir tanah yang terpercik ke bawah oleh tumbukan butir hujan akan semakin banyak.
Unsur lain yang berpengaruh adalah konfigurasi, keseragaman dan arah lereng (Arsyad, 1989).
Panjang lereng dihitung mulai dari titik pangkal aliran permukaan sampai suatu titik dimana air masuk ke dalam saluran atau sungai, atau dimana kemiringan lereng berkurang sedemikian rupa sehingga kecepatan aliran air berubah. Air yang mengalir di permukaan tanah akan terkumpul di ujung lereng. Dengan demikian berarti lebih banyak air yang mengalir dan semakin besar kecepatannya di bagian bawah lereng dari pada bagian atas.

  1. Panjang Lereng

Panjang lereng dihitung mulai dari titik pangkal aliran permukaan sampai suatu titik di mana air masuk kedalam saluran atau sungai, atau sampai kemiringan lereng berkurang demikian rupa sehingga kecepatan aliran air berubah.

  1. Konfigurasi Lereng

Lereng permukaan tanah berbentuk cembung (konvek) atau cekung (konkav). Erosi lembar lebih besar terjadi pada permukaan lereng cembung dari pada permukaan cekung. Sedangkan pada permukaan cekung cenderung terbentuk erosi alur atau parit. Lereng permukaan tanah tidak selalu seragam kecuramannya. Sehingga memungkinkan berpengaruh terhadap aliran permukaan dan erosi.

  1. Arah Lereng

Di belahan bumi bagian utara lereng yang menghadap kearah selatan mengalami erosi lebih besar daripada yang menghadap ke uatara. Tanah-tanah pada lereng yang menghadap ke selatan sedikit kandungan organik dan lebih mudah terdispersi karena pengaruh sinar matahari

c. Vegetasi

Vegetasi penutup tanah yang baik seperti rumput yang tebal, atau hutan yang lebat akan menghilangkan pengaruh hujan dan topografi terhadap erosi (Arsyad, 1989). Asdak (1995) mengemukakan bahwa yang lebih berperan dalam menurunkan besarnya erosi adalah tumbuhan bahwa karena ia merupakan stratum vegetasi terakhir yang akan menentukan besar kecilnya erosi percikan. Pengaruh vegetasi terhadap aliran permukaan dan erosi dibagi dalam lima bagian (Arsyad, 1989), yakni:

  1. Sebagai intersepsi hujan oleh tajuk tanaman.
  2. Mengurangi kecepatan aliran permukaan dan kekuatan perusak air.
  3. Pengaruh akar dan kegiatan-kegiatan biologi yang berhubungan dengan pertumbuhan vegetasi dan pengaruhnya terhadap stabilitas struktur dan porositas tanah.
  4. Transpiransi yang mengakibatkan kandungan air tanah berkurang sehingga meningkatkan kapasitas infiltrasi.

 

d. Tanah

Arsyad (1989), menerangkan bahwa berbagai tipe tanah mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda-beda. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kepekaan erosi adalah (1) sifat-sifat tanah yang mempengaruhi laju infiltrasi, permeabilitas menahan air, dan (2) sifat-sifat tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur tanah terhadap dispersi dan pengikisan oleh butir-butir hujan yang jatuh dan aliran permukaan. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi erosi adalah tekstur, struktur, bahan organik, kedalaman, sifat lapisan tanah, dan tingkat kesuburan tanah.

  1. Tekstur Tanah

Tekstur tanah adalah perbandingan relatif tiga golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah terutama perbandingan antara fraksi-fraksi lempung (clay), debu (silt), dan pasir (sand) (Darmawijaya, 1990: 163). Tanah bertekstur kasar (pasir atau pasir berkerikil) mempunyai kapasitas infiltrasi tinggi, tanah bertekstur pasir halus juga mempunyai kapasitas infiltrasi cukup tinggi, akan tetapi jika terjadi aliran permukaan maka butir-butir halus akan mudah terangkat.

Tanah mengadung liat dalam jumlah yang tinggi akan menyebabkan terjadinya aliran permukaan erosi yg tinggi.

  1. Bahan Organik

Bahan organik terdiri atas limbah tanaman dan hewan sebagai hasil proses dekomposisi. Unsur organik cenderung memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan permeabilitas tanah, kapasitas tampung air tanah, dan kesuburan tanah.

  1. Struktur Tanah

Struktur tanah didefinisikan sebagai susunan saling mengikat partikel tanah (Darmawijaya, 1990: 168). Ikatan partikel-partikel tanah tersebut sebagai agregat tanah yang membentuk dirinya. Struktur tanah mempengaruhi tanah dalam menyerap air tanah. Struktur adalah ikatan butir primer kedalam butir sekunder atau agregat.

Terdapat 2 aspek struktur yang penting yaitu:

1.Sifat fisika – kimia liat

2.Adanya bahan pengikat butir-butir primer sehingga terbentuk agregat yang mantap

  1. Permeabilitas Tanah

Permeabilitas tanah menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air. Permeabilitas tanah sendiri ditentukan oleh tekstur, struktur, dan unsur organik.

Bentuk wilayah atau topografi menentukan kecepatan lajunya air dipermukaan yang mampu mengangkut/menghanyutkan partikel-partikel tanah. Faktor topografi tersebut adalah faktor kemiringan dan panjang lereng. Faktor tanaman penutup tanah (vegetasi) memiliki sifat melindungi tanah dari timpaan-timpaan keras titik-titik curah hujan ke permukaannya, selain itu vegetasi juga dapat memperbaiki susunan tanah dengan bantuan akar-akarnya yang menyebar. Sedang faktor kegiatan manusia selain dapat mempercepat terjadinya erosi karena perlakuan-perlakuan negatif dapat pula memegang peranan yang penting dalam usaha pencegahan erosi yaitu dengan perbuatan atau perlakuan-perlakuan yang bersifat positif.
5. Bahan Organik

Bahan organik berupa daun, ranting dan sebagainya yang belum hancur yang menutupi permukaan tanah merupakan pelindung tanah terhadap kekuatan perusak butir-butir hujan yang jatuh.

6. Sifat Lapisan Tanah

Tanah yang dalam dan permeabel kurang peka terhadap erosi daripada tanah yang permeabel tetapi dangkal.

7. Kesuburan Tanah

Perbaikan kesuburan tanah akan memperbaiki pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman yang lebih baik akan memperbaiki penutupan tanah dan lebih banayak sisa tanaman yang kembali ke tanah.

e. Manusia

Manusia dapat mencegah dan mempercepat terjadinya erosi, tergantung bagaimana manusia mengelolahnya. Manusialah yang menentukan apakah tanah yang dihasilkannya akan merusak dan tidak produktif atau menjadi baik dan produktif secara lestari. Banyak faktor yang menentukan apakah manusia akan mempertahankan dan merawat serta mengusahakan tanahnya secara bijaksana sehingga menjadi lebih baik dan dapat memberikan pendapatan

 

Bentuk – Bentuk Erosi

Bentuk-bentuk erosi ini merujuk pada erosi yang terjadi secara accelerated. Seperti pada bagian awal, erosi semacam ini banyak dipengaruhi oleh iklim dan faktor manusia. Kartasapoetra dalam bukunya “Tekhnologi Konservasi Tanah dan Air” menyebutkan bentuk-bentuk erosinya adalah:

Menurut bentuknya, erosi dibedakan dalam : erosi percik, erosi lembar, erosi alur, erosi parit, erosi tebing sungai, erosi internal dan tanah longsor (Suripin 2001).

1. Erosi Percik (Splash erosion) adalah proses terkelupasnya patikel-partikel tanah bagian atas oleh tenaga kinetik air hujan bebas atau sebagai air lolos. Arah dan jarak terkelupasnya partikel-partikel tanah ditentukan oleh kemiringan lereng, kecepatan dan arah angin, keadaan kekasaran permukaan tanah, dan penutupan tanah.

2. Erosi Lembar (Sheet erosion) adalah erosi yang terjadi ketika lapisan tipis permukaan tanah di daerah berlereng terkikis oleh kombinasi air hujan dan air larian (runoff).

3. Erosi Alur (Rill erosion) adalah pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan partikel-partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-saluran air. Alur-alur yang terjadi masih dangkal dan dapat dihilangkan dengan pengolahan tanah.

4. Erosi Parit (Gully erosion) proses terjadinya sama dengan erosi alur, tetapi saluran yang terbentuk sudah sedemikian dalamnya sehingga tidak dapat dihilangkan dengan pengolahan tanah biasa.

5. Erosi Tebing Sungai (Streambank erosion) adalah pengikisan tanah pada tebing-tebing sungai dan pengerusan dasar sungai oleh aliran air sungai. Erosi tebing akan lebih hebat jika vegetasi penutup tebing telah habis atau jika dilakukan pengolahan tanah terlalu dekat tebing.

6. Erosi Internal (Internal or subsurface erosion) adalah terangkutnya butir-butir primer kebawah ke dalam celah-celah atau pori-pori tanah sehingga tanah menjadi kedap air dan udara. Erosi internal menyebabkan menurunnya kapasitas infiltrasi tanah dengan cepat sehingga aliran permukaan meningkat yang menyebabkan terjadinya erosi lembar atau erosi alur.

7. Tanah Longsor (Landslide) adalah suatu bentuk erosi yang pengangkutan atau pemindahan tanahnya terjadi pada suatu saat dalam volume yang besar.
Menurut Hudson dalam tulisannya, besarnya erosi maksimal yang dapat dibiarkan adalah berkisar antara 2,5 – 12,5 ton per hektar per tahun. Laju erosi diberbagai DAS saat ini relatif tinggi. Misalnya sub-DAS Ciliwung Hulu, secara kumulatif laju erosi yang terjadi adalah 19,3 ton/ha/th dengan indeks erosi sebesar 1,29 (>1) yang berarti bahwa ditinjau dari segi erosi DAS tersebut dalam kondisi jelek (Arief Guritno dkk,2003). Kita hanya bisa menghambat berlangsungnya erosi tetapi tidak bisa mencegah sama sekali terjadinya erosi tersebut. Penghambatan tersebut adalah sangat tergantung pada aktivitas dan kebijaksanaan kita pula (G Kartasapoetra dkk,1991:60).
Pengaruh yang Ditimbulkan Oleh Erosi

Dampak erosi dibagi menjadi dampak ditempat asal terjadinya erosi (on site) dan dampak pada daerah diluarnya (off site).

 Dampak erosi tanah di tapak (on site) merupakan dampak yang dapat terlihat langsung kepada pengelola lahan yaitu berupa penurunan produktifitas. Hal ini berdampak pada kehilangan produksi peningkatan penggunaan pupuk dan kehilangan lapisan olah tanah yang akhirnya menimbulkan terjadinya tanah kritis.

Pengaruh erosi pada kesuburan fisik tanah diantaranya adalah terjadinya penghanyutan partikel-partikel tanah, perubahan struktur tanah, penurunan kapasitas infiltrasi dan penampungan, serta perubahan profil tanah. Sedangkan pengaruh pada kesuburan kimia tanah menurut Goeswono Soepardi dalam bukunya “Sifat dan Ciri Tanah” adalah kehilangan unsur hara karena erosi selama rata-rata 2 tahun yang diperoleh dari percobaan di Missouri yaitu N 66 kg per hektar, kemudian P2O5 41 kg per hektar,K2O 729 kg per hektar, MgO 145 per kg per hektar,dan SO4 sebanyak 42 kg per hektar per tahun.

Tanah yang dikatakan rusak kalau lapisan bagian atasnya atau top soil (ketebalan 15 – 35 cm) memang telah banyak terkikis dan atau dihanyutkan oleh arus air hujan, sehingga lapisan tersebut menjadi tipis atau bahkan hilang (A.G Kartasapoetra,1986:45).
Sementara itu, Jung L sekitar tahun 1953 telah melakukan penelitian yang telah membuktikan adanya penghanyutan bahan organik yang diakibatkan erosi, seperti halnya pada table berikut:
Bagian lereng P2O5

(mg/100g tanah) K2O

(mg/100g tanah) Humus (%)

puncak 10,0 14,3 1,69

tengah 4,7 9,8 1,58

bawah 7,2 16,8 1,71

Dampak erosi tanah diluar lahan pertanian (off-site) merupakan dampak sangt besar pengaruhnya. Sedimen hasil erosi tanah dan kontaminan yang terbawa bersama sedimen menimbulkan kerugian dan biaya yang sangat besar dalam kehidupan. Arsyad (1989) mengemukakan bentuk dampak off-site antara lain:

  1. Pelumpuran dan pendangkalan waduk
  2. Tertimbunnya lahan pertanian dan bangunan
  3. Memburuknya kualitas air, dan
  4. Kerugian ekosistem perairan

Upaya Mengurangi Erosi 
Seperti pada bagian sebelumnya, bahwa erosi tidak dapat begitu saja dihilangkan namun dapat dikurangi dengan daya manusia. Walaupun sebenarnya faktor yang sangat berpengaruh dalam mempercepat laju erosi adalah manusia, namun tidak berarti bahwa manusia tidak bias berbuat apa-apa dalam mengurangi terjadinya erosi. Setiap orang pasti akan mampu berupaya seperti itu, tinggal kesadaran masing-masing yang harus ada mengenai permasalahan tersebut.

 

Upaya yang dapat dilakukan oleh manusia ialah:

Pertama, sebagai manusia harus sadar akan permasalahan erosi dan dampak yang akan timbul dan menyerang kita sendiri. 

Kedua, janganlah merusak ekosistem hutan karena hutan adalah tempat yang sangat berpengaruh dalam terjadinya erosi disekitarnya. Jika menebangi pohon di hutan segera diganti dengan pohon baru.
Ketiga, 
lakukan segera pengolahan tanah pertanian secara bijak dengan cara membuat sengkedan-sengkedan ataupun terasering untuk menahan laju erosi agar tidak terlalu besar.

Keempat, Hijaukan kembali (reboisasi) dan lakukan konservasi hutan-hutan yang telah gundul akibat keserakahan kita sebagai manusia.

Rhett A Butler mengemukakan bahwa akar-akar dari pepohonan kayu keras dan vegetasi hujan membantu menahan tanah. Saat pohon kita tebangi maka tak akan ada lagi penahan apapun yang dapat melindungi tanah dan material tanahpun akan cepat terbawa/hanyut oleh air hujan. Oleh sebab itu alangkah baiknya mulai dari sekarang kita pikirkan secara matang akan dampak dari erosi yang yang telah menimpa kita saat ini dan jangan sampai lagi terulang dimasa yang akan datang. Dengan kesadaran tinggi akan hal tersebut kita harus segera berupaya untuk melakukan kegiatan yang dapat mengurangi terjadinya erosi tanah.

Usaha pokok dalam pengawetan tanah dan air meliputi (Zulrasdi et, al. 2005):

  1. Pengelolaan lahan
  •  Sesuai kemampuan lahan
  •  Mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah
    • Melindungi   lahan   dari   ancaman   erosi dengan menanam tanaman penutup tanah
    •  Penggunaan mulsa.
  1. Pengelolaan Air

Pengelolaan air adalah usaha-usaha pengembangan sumberdaya air dalam hal :

•    Jumlah air yang memadai

•    Kwalitas air

•    Tersedia air sepanjang tahun

3.   Pengelolaan Vegetasi

Pengelolaan vegetasi pada hutan tangkapan air  maupun  pemeliharaan  vegetasi sepanjang aliran sungai, dapat ditempuh  dengan cara:

  • Penanaman dengan tanaman berakar serabut seperti:  bambu  yang  sangat  dianjurkan  di pinggiran sungai, kemudian diikuti dengan rumput  makanan  ternak  seperti: Rumput gajah, Rumput Setaria, Rumput Raja, dan lain-lain sebagainya.  Penanaman ini dimaksudkan untuk  penghalang terjadinya erosi pada tanah.
  • Penanaman tanaman semusim untuk lahan yang tidak memiliki kemiringan
  • Pembuatan teras.  Bila pada lahan tersebut terdapat   kemiringan,   maka   perlu dibuat teras.

4.  Usaha Tani Konservasi

Usaha  tani  konservasi  adalah  penanaman lahan  dengan  tanaman  pangan  serta  tanaman yang berfungsi untuk mengurangi erosi (aliran permukaan) dan mempertahankan  kesuburan tanah.

Prinsip usaha tani konservasi :

  • Mengurangi   sekecil   mungkin   aliran   air permukaan dan meresapkan airnya sebesar mungkin ke dalam tanah.
  • Memperkecil  pengaruh  negatif  air  hujan yang jatuh pada permukaan tanah
  • Memanfaatkan  semaksimal  sumber  daya alam dengan memperhatikan kelestarian.

 

Sistem Manajemen Sisa-sisa Tanaman/Crop Residue Management System (CRM) sebagai Salah Satu Teknik Konservasi Tanah dan Air

 

Sistem CRM adalah salah satu teknik konservasi tanah dan air (KTA) yang dilakukan sepanjang tahun terutama ditujukan untuk mengurangi erosi tanah oleh angin dan air. Sistem CRM ini termasuk dalam kategori KTA secara agronomi, karena dilakukan sepanjang tahun. Praktek-praktek KTA lainnya seperti contouring, terasering, grassed air, kontur strip rotasi tanaman, cropping strip angin, penghalang angin, dan lapangan windbreaks (Scherts dan Kemps, 1994). Praktek-praktek tersebut termasuk dalam kegiatan budidaya. Menurut Gajri dan Prihar (1984) budidaya adalah proses pengelolaan tanah untuk produksi tanaman yang diterapkan oleh manusia, hewan, atau mesin untuk mengolah tanah dengan mengubah lingkungan fisik.

Sistem CRM digunakan untuk tujuan mengurangi atau meningkatkan infiltrasi air atau kelembaban tanah, atau untuk meningkatkan kualitas air. Dengan demikian akan diperoleh hasil panen yang memberikan keuntungan optimal (Scherts dan Kemps, 1994). Sistem ini merupakan sistem perencanaan pengelolaan tanah yang mencakup beberapa cara. Menurut CTIC (1993) seperti dirujuk oleh Scherts dan Kemps (1994) di USA terdapat beberapa kategorisasi pengolahan tanah.

  1. No-till, tanah dibiarkan tak terganggu dari panen kecuali untuk injeksi gizi pada saat penanaman atau pada slot oleh coulters, pembersih baris, cakram pembuka, pahat ataupun roto-tillers. Penanaman atau pengeboran dilakukan di persemaian yang sempit, sementara itu pengendalian gulma dengan herbisida. Budidaya juga untuk pengendalian gulma darurat.
  2. Mulch-till/mulsa, sebelum penanaman tanah dikerjakan dengan alat seperti pahat, pembudidaya lapangan, coulters, cakram, penyapu atau bilah. Pengendalian gulma dicapai dengan herbisida dan/atau budidaya.
  3. Ridge-till, tanah dibiarkan tak terganggu dari panen kecuali untuk injeksi gizi pada saat penanaman. Penanaman dilakukan dalam punggungan persemaian yang telah dipersiapkan sebelumnya dengan menyapu, disc pembuka, coulters, atau baris pembersih. Residu tanaman yang tersisa terdapat di permukaan antara punggungan. Pengendalian gulma dicapai dengan herbisida dan/atau budidaya. Selanjutnya punggungan tersebut dibangun kembali selama budidaya.
  4. 15-30% residu tanaman, ditinggalkan setelah penanaman/budidaya atau setara dengan 560 kg/ha residu tanaman butir kecil untuk 1.120 kg /ha yang diperoleh selama terjadinya periode kritis erosi karena angin.
  5. < 15% residu tanaman, ditinggalkan setelah penanaman/budidaya atau kurang dari 560 kg/ha residu tanaman butir kecil yang diperoleh selama terjadinya periode kritis erosi karena angin.

 

Adapun keuntungan sistem CRM menurut Scherts dan Kemps (1994) antara lain:

  1. mengurangi erosi tanah oleh air, besarnya bervariasi dari 40 hingga lebih dari 90 persen tergantung pada jumlah penutup permukaan tanah yang tersisa di permukaan. Namun, efektivitas pengendalian erosi residu tanaman juga ditentukan oleh faktor-faktor seperti jenis, jumlah dan cara aplikasi mulsa (Khera dan Kukal, 1994; Williams, John D., dkk., 2000). Manfaat dari residu tanaman permukaan dalam mengurangi erosi tanah oleh air juga berkorelasi erat dengan pengurangan erosi angin;
  2. meningkatkan bahan organik pada tanah dari 1,87 % menjadi 4% dalam waktu sekitar 15 tahun, melalui penggunaan residu atau mulsa (Sparrow, dkk., 2006). Dengan adanya mulsa maka terjadi peningkatan jumlah bahan organik, dapat meningkatkan produktivitasnya dan akan lebih sulit tererosi, karena meningkatkan stabilitas agregat tanah dan infiltrasi, yang selanjutnya dapat mengurangi erosi tanah; (Khera dan Kukal, 1994; Rao dkk., 1994; Govaerts dkk, 2007). Residu tanaman penutup menghalangi air hujan sebelum mereka mencapai tanah, menetralkan energi yang tersimpan dan dengan demikian mengurangi pelepasan tanah dan transportasi. Bahan organik juga menghambat kecepatan aliran permukaan sehingga mengalir dengan kecepatan yang tidak merusak (Khera dan Kukal, 1994; Arsyad, 2006). Sebaliknya penanaman yang intensif dapat menurunkan bahan organik tanah kurang dari separuh dari yang ada sebelum budidaya dimulai;
  3. mengurangi efek kekeringan meningkat secara signifikan karena residu tanaman tersebut menghasilkan kelembaban tanah (Arsyad, 2006; Govaerts dkk, 2007). Mempertahankan kelembaban tanah adalah hal yang sangat penting untuk pertanian. Menurut Jalota dan Prihar (1990), sebagaimana diuraikan oleh Gajri dan Prihar (1994), konservasi kelembaban tanah tersebut tergantung pada jenis tanah, kondisi iklim, dan kedalaman dan jenis tanah yg dikerjakan. Namun di daerah-daerah lembab, ketika tanaman sangat membutuhkan air, hujan justru tidak selalu terjadi. Sebagai contoh, Bauer dan Black (1991) dalam Scherts dan Kemps (1994), menemukan bahwa sistem CRM yang baik di Northern Great Plains di US, dapat menyimpan 6-10 cm kelembaban tanah dan meningkatkan sebesar 134 hasil gandum dan hasil barley sebesar 188 kg/ha.cm setiap tambahan kelembaban;
  4. meningkatkan infiltrasi dan kapasitas menahan air serta menurunkan air limpasan dan penguapan, Akibatnya produksi tanaman per unit curah hujan meningkat. Menurut Moore (1981) ketidakstabilan struktur tanah akibat hujan dapat membentuk pemadatan di permukaan, sehingga dapat mengurangi infiltrasi dan meningkatkan limpasan. Akibatnya, air yang tersedia dalam profil akan berkurang (Rao dkk, 1994, Gajri dan Prihar, 1994). Dengan meninggalkan residu tanaman pada permukaan tanah melindungi permukaan tanah dari dampak tetesan air hujan, mengurangi gangguan, dispersi, dan penyegelan permukaan tanah berikutnya dan dengan demikian membantu mempertahankan tingkat infiltrasi yang tinggi dan mengurangi kecepatan limpasan (Khera dan Kukal, 1994; Parr dkk., 1990 dalam Rao dkk., 1994), menyediakan lebih banyak air untuk produksi tanaman dan meningkatkan pengisian ulang ke aquifers, serta meningkatkan proses aerasi oksigen tanah;
  5. meningkatkan populasi serangga dan cacing-cacing yang memakan permukaan dan menggali bahan organik di dalam tanah untuk perlindungan (Govaerts dkk, 2007; Nikita dkk, 2009). Liang mereka sering memfasilitasi infiltrasi lebih cepat dan di beberapa daerah dapat secara signifikan mengurangi limpasan;
  6. mengurangi evaporasi air dari tanah, meninggalkan lebih banyak air yang tersedia untuk digunakan tanaman (Gajri dan Prihar, 1994). Menurut Linden dkk (1987), sebagaimana dijelaskan oleh Scherts dan Kemps (1994); hanya dengan 30 persen residu tanaman yang menutupi permukaan tanah, maka potensi relatif evaporasinya mencapai 70 persen dibandingkan dengan jika tidak ada residu tanaman. Penggunaan mulsa ternyata cukup efektif dalam melestarikan kelembaban tanah dan meningkatkan hasil panen (Khera dan Kukal, 1994). Sebagaimana diuraikan oleh Gajri dan Prihar (1994), di lingkungan sub-tropis India Utara, suhu di lapisan tanah yang dikerjakan dengan mulsa supra-optimal selama musim panas meningkatkan hasil panen jagung;

mempertahankan atau meningkatkan kualitas air permukaan. Pengelolaan residu tanaman membantu menjaga sedimen, kotoran hewan, patogen dan pestisida yang keluar dari permukaan di areal pengelolaan (Addiscott dan Dexter, 1994). Air yang mencapai aquifers umumnya mengandung kurang dari 1 persen pestisida dan 99 persen adalah bahan organik alami. Air yang telah disaring perlahan-lahan tersebut melalui Mollisols, dan praktis bebas dari patogen serta umumnya dapat diminum.

DAFTAR PUSTAKA

A.G Kartasapoetra. 1986.Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman. Jakarta:Bumi
Aksara
Ahmad Basyir dkk. 2006. Jurnal Ekologi Perubahan Perilaku Daerah Aliran Sungai Citarum Hulu dengan Pemodelan Spasial. Bandung: www.ftsl.itb.ac.id

Arief Guritno dkk. 2003. Konsep Penerapan Teknologi Tepat Guna Sebagai Alternatif Upaya Mengatasi Dampak Sumberdaya Air. Bogor: IPB

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. UGM Press. Yogyakarta.
G Kartasapoetra. 1991. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Jakarta: PT Rineka Cipta

Gajri, P.R dan Prihar, S.S. (1994). “Role of Tillage in Crop Production-The Indian Experience”, 8th ISCO Conference: Soil and Water Conservation: Challenges and Opportunities, Volume 2, New Delhi, hlm.1305-1320.

Govaerts, Bram dkk (2007) Infiltration, Soil Moisture, Root Rot and Nematode Populations after 12 years of Different Tillage, Residue and Crop Rotation ManagementsSoil and Tillage Research, Volume 94, Issue 1, May, hlm. 209-219.

Khera, K.L. dan Kukal, S.S. (1994). “Soil and Water Conservation through Crop Cover and

Residue Management, , 8th ISCO Conference: Soil and Water Conservation: Challenges and Opportunities, Volume 2, New Delhi,  hlm. 1295-1304.
Lawrence dan Peter. 1988. Daerah Aliran Sungai Hutan Tropika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Nasiah. 2000. Evaluasi Kemampuan Lahan dan Tingkat Bahaya Erosi Untuk Prioritas Konservasi Lahan di Daerah Aliran Sungai Takapala Kabupaten Dati II Gowa Propinsi Sulawesi Selatan. Tesis. Program Pasca sarjana, UGM. Yogyakarta.

Nikita dkk (2009) “Earthworm Populations and Growth Rates Related to Long-term Crop

Residue and Tillage ManagementSoil and Tillage Research, Volume 104, Issue 2, July, hlm. 311-316
Rahim, Sufli Efendi. 2000. Pengendalian Erosi Tanah Dalam Rangka Pelestarian Lingkungan Hidup. Bumi Aksara . Jakarta

Rao, K.P.C., dkk (1994). “Effect of Soil Management Practices on Runoff and Infiltration Processes of Hardsetting Alfisol in Semi-Arid Tropics”, 8th ISCO Conference: Soil and Water Conservation: Challenges and Opportunities, Volume 2, New Delhi, hlm.1287-1293.

Scherts, D.L. dan Kemps, W.D. (1994). “Crop Residue Management System and Their Role in Achieving a Sustainable, Productive Agriculture”, 8th ISCO Conference: Soil and Water Conservation: Challenges and Opportunities, Volume 2, New Delhi,hlm.1255-1265.

Sparrow, Stephen D., dkk., (2006). “Soil Quality Response to Tillage and Crop Residue Removal under Subarctic ConditionsSoil and Tillage Research, Volume 91, Issues 1-2, December, hlm.  15-21.

Zulrasdi. Noer, .Sjofjendi, 2005. Pertanian di Daerah Aliran Sungai, Lembaga Informasi Pertanian, BPPT Sumatera Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s