Rencana Penelitian KAJIAN SIFAT MORFOLOGI, PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PEGAGAN ( Centella asitica (L.) Urban. ) PADA TANAH GAMBUT, ALUVIAL DAN PODSOLIK MERAH KUNING

Posted: 26/06/2013 in kuliahku

PENDAHULUAN

  1. A.    LatarBelakang

            Centella asiatica ( L. ) Urban atau yang biasa dikenal dengan sebutan pegagan merupakan genus dari keluarga tanaman Apiaceae ( Umbelliferae ) yang berisi 20 spesies yang berbeda. Sinonim atau sebutan lain yang paling sering ditemukan adalah Hydrocotyle asiatica L. (B. Brinkhaus et al. 2000 ). Di Kalimantan Barat sendiri tanaman ini dikenal dengan sebutan pucuk pegage oleh suku Melayu dan daun pegaga oleh suku Dayak.

Pegagan merupakan tanaman liar yang ditemukan di Asia Tropis sampai daerah sub-tropis, mulai dari dataran rendah sampai tinggi 100 – 2500 m di atas permukaan laut ( Bermawie, N dkk. 2008 ). Pegagan banyak ditemukan tumbuh pada beberapa tipe habitat alami yang memiliki karakter tanah yang lembab,tanah berpasir, tempat yang ternaungi dengan intensitas sinar matahari yang rendah, maupun yang berada di lahan terbuka seperti padang rumput, pinggir selokan, pematang sawah hingga pada halaman rumah yang memiliki tanah yang lembab ( Januwati Mariam dan M. Yusron. 2005 ).

Tumbuhan jalukap atau pegagan memiliki perawakan terna atau herba tahunan. Batang berupa stolon yang menjalar atau merayap di atas tanah, memiliki percabangan simpodial, dengan tinggi hanya sekitar 30 – 50 cm, diameter batang antara 0,2 – 0,5 cm, dengan interkalar antara 10 – 12 cm. bentuk batang bulat, berwarna hijau  muda, tidak berumbi, mempunyai bulu halus yang tersebar pada permukaan batang ( Dharmono. 2007 ).

Daun merupakan daun tunggal dengan tata letak daun berhadapan, tepi daun berlekuk  5 – 7 lekukan dangkal dengan permukaan berbulu kasar. Warna daun hijau muda, dan teksturnya tipis lunak. Daun berbentuk bulat, ujungnya tumpul, pangkal berlekuk, urat daun menjari. Panjang dan lebar daunnya terbesar adalah antara 3 m dan 6 cm, sedangkan untuk ukuran panjang dan lebarnya dari yang terkecil adalah 1 cm, dan 1,5 cm ( Dharmono. 2007 ).

   Bunga termasuk majemuk tak terbatas dengan bagian bunga yang tidak lengkap karena termasuk bunga bongkol yang tidak memiliki kaliks, dengan corola, stamen dan stylus yang tidak terbatas, warna bunga hijau. Buah merupakan buah majemuk dengan  jumlah tidak terbatas dan termasuk dalam tipe buah sejati majemuk kering. Jumlah biji tidak terbatas dengan warna buah coklat tua. Tanaman ini berbuah tidak mengenal musim ( Dharmono, 2007 ).

Memiliki dua jenis tipe perakaran yakni akar tunggang yang terdapat pada indukan hasil perkawian generatif serta akar serabut yang berasal dari anakan stolon atau pada setiap buku – buku yang menjalar di atas tanah dan sangat sulit ditentukan akar pokoknya apabila berasal dari anakan stolon. Akar berwarna putih kekuningan ( Dharmono, 2007 ).

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan Darwati, dkk (2012),  tanaman pegagan dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik hampir pada semua jenis tanah lahan kering. Terutama jenis tanah Latosol yang memiliki kandungan liat sedang, sehingga memungkinkan pegagan dapat tumbuh dengan subur ditambah dengan jumlah kandungan bahan aktifnya cukup baik ( Januwati dan Yusron. 2005). Berdasarkan keterangan tersebut, sehingga pada penelitian ini akan dilakukan uji penanaman pegagan diberi perlakuan tumbuh pada tiga tipe tanah yang berbeda yakni, tanah gambut, aluvial dan podsolik merah kuning. Perlakuan dengan menggunakan tiga tipe jenis tanah yang berbeda diduga akan sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan maupun jumlah kadar asiatikosida yang terdapat pada pegagan.

Tiga tipe tanah yang digunakan merupakan kelompok tanah pada lahan kering dan lahan basah. Tanah yang digunakan memiliki ciri spesifik masing-masing yang dapat dijadikan sebagai kategori pembanding untuk optimalisasi pertumbuhan tanaman pegagan. Tanah gambut merupakan kelompok tanah pada lahan basah, tanah ini banyak dijumpai di daerah dataran rendah atau daerah cekungan dataran tinggi. Tanah gambut terbentuk apabila produksi dan penimbunan bahan organik lebih besar dari mineralisasinya. Keadaan demikian terdapat ditempat – tempat yang selalu digenangi air sehingga sirkulasi oksigen sangat terhambat. Akibatnya dekomposisi bahan organik terhambat dan terjadilah akumulasi bahan organik. Secara umum gambut bersifat asam, karena  proses pengeluaran  asam-asam organik (humat dan fulvat) ( Sutarman, G dkk. 2003 ).

Berdasarkan penggolongannya tanah aluvial sama dengan tanah gambut, termasuk dalam kelompok tanah pada lahan basah. Tanah ini  merupakan jenis tanah yang baru berkembang, tanah ini belum memperlihatkan pembentukan horizon, umumnya berwarna kelabu hingga coklat, bertekstur pasir dan debu ( >40% ), berstuktur gumpal atau tanpa struktur, kadar bahan organic tergolong rendah ( Sutarman, G dkk. 2003 ).

Tanah podsolik merah kuning termasuk kedalam kelompok tanah pada lahan kering, merupakan tanah tua yang sudah mengaliami tingkat pelapukan yang lanjut. Kandungan mineral tanah ini yang dapat dilapuk sangat rendah, sehingga suplai hara yang berasal dari tanah ini sangat kecil. Tanah bersifat asam, kandungan liat tinggi, dengan kestabilan agregat yang tinggi, kandungan bahan organik rendah, sehingga miskin cadangan haranya ( Sutarman, G dkk. 2003 ).

Berdasarkan beberapa sifat dan kategori dari masing – masing tanah, maka hal ini menjadi dasar utama dalam penentuan jenis tanah yang akan dijadikan sebagai perlakuan. Selain itu, karena sifat tumbuh pegagan yang relative lebih mudah sehingga dengan 3 kategori tanah yang berbeda tersebut diperkirakan tanaman pegagan akan tetap dapat tumbuh namun tingkat pertumbuhannya akan berbeda – beda.  Mengingat di Kalimantan Barat tanaman pegagan hanya terbatas untuk keperluan konsumsi dan bahkan sering dianggap sebagai gulma sehingga kurang diperhatikan manfaatnya. Untuk itu, maka perlunya dilakukan penelitian yang berkaitan dengan optimalisasi pertumbuhan tamanan pegagan yang berada di Kalimantan Barat, untuk mendapatkan pegagan yang bermutu terhadap pertumbuhan, produksi dan hasil tanaman pegagan serta mendukung pengembangan pegagan dalam usaha budidaya yang luas.

B. Rumusan Masalah

Pegagan termasuk dalam kelompok tanaman liar. Sifat hidup dan tumbuh yang mudah memungkinkan pegagan dapat ditemukan hampir diseluruh daerah di Kalimantan Barat. Pegagan memiliki beberapa manfaat dalam bidang kesehatan sehingga perlu adanya pengembangan yang lebih lanjut. Penanaman pegagan pada tiga perlakuan yang berbeda dimaksudkan agar tingkat pertumbuhan yang optimal dapat terlihat, sehingga dapat di aplikasikan dalam pengembangan budidaya. Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa permasalahan yang dapat disimpulkan antara lain:

  1. Bagaimana pertumbuhan empat jenis pegagan pada tiga jenis tanah ?
  2. Bagaimana bentuk adaptasi morfologi empat jenis tanaman pegagan pada tiga jenis tanah ?
  3. Jenis tanah apa yang paling mendukung tingkat optimalisasi pertumbuhan pada empat jenis pegagan ?

 

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui pertumbuhan empat jenis tanaman pegagan pada tiga jenis tanah yang berbeda.
  2. Untuk mengetahui bentuk adaftasi morfologi empat jenis tanaman pegagan pada tiga jenis tanah yang berbeda.
  3. Untuk mengetahui jenis tanah yang paling mendukung tingkat optimalisasi pertumbuhan pada empat jenis pegagan.

D. Metode Penelitian

  1. 1.      Tempat dan Waktu

Penelitian ini akan dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak, dengan lama penelitian 3 bulan.

  1. 2.      Bahan dan Alat
    1. a.      Bahan

Bahan tanam yang digunakan adalah empat jenis pegagan, pupuk kandang kotoran sapi, tanah gambut, tanah alluvial, tanah podsolik merah kuning, polybag.

  1. b.      Alat

Alat yang akan digunakan dalam penelitian yaitu ayakan tanah, meteran, hands sprayer, timbangan analitik, alat-alat tulis, cangkul, ember, alat dokumentasi dan peralatan lain yang mendukung.

E. Rancangan Penelitian

            Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak  Kelompok (RAK) dengan penggunaan jenis tanah yang terdiri atas 3 taraf perlakuan yaitu :

T1 = Tanah gambut

T2= Tanah aluvial

T3= Tanah podsolik merah kuning

Setiap unit percobaan terdiri dari 4 sampel tanaman dan masing-masing perlakuan diulang  sebanyak 3 x, sehingga jumlah tanaman seluruhnya 36 tanaman.

F. Prosedur Penelitian

Anakan pegagan ditanam pada polybag berukuran 50 cm x 40 cm (18-20 kg), masing – masing polybag ditanam 1 anakan. Media tanah dan pupuk yang digunakan dengan perbandingan 1:1. Pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan dan pengendalian OPT. panen dilakukan setelah tanaman berumur 3 BST ( bulan setelah tanam ) dengan cara memetik bagian batang dan daunnya.

Parameter yang diamati berupa karakter morfologi yang terbagi menjadi 2 yaitu karakter kuantitatif yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang tangkai daun, lebar daun, jumlah anakan, jumlah bunga per geragih, bobot segar dan bobot kering per tanaman; karakter kualitatif yang meliputi bentuk daun ( muda dan tua ), bentuk tepi daun, bentuk pangkal daun, warna daun ( muda dan tua ), warna batang ( muda dan tua ), warna bunga, dan warna buah. Pengamatan warna didasarkan pada The Royal Horticultural Society (RSH) Colour Chart, 2001.

G. Analisis Data

Hasil yang dianalisis adalah data yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan seluruh peubah pertumbuhan 4 jenis pegagan pada tiga jenis tanah yang berbeda. Adapun tahapan analisis data yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Analisis Sidik Ragam (Uji F)

Analisis sidik ragam (uji F) merupakan analisis untuk melihat pengaruh perlakuan aksesi terhadap peubah yang diamati.

2. Analisis Uji Lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT)

Analisis uji lanjut DMRT merupakan uji lanjut dari hasil analisis sidik ragam terhadap perlakuan aksesi yang berpengaruh nyata terhadap peubah pertumbuhan dan untuk melihat perbandingan antara masing-masing perlakuan jenis tanah.

 

DAFTAR PUSTAKA

B. Brinkhaus et al. 2000. Chemical, pharmacological and clinical profile of the       East Asian medical plant Centella asiatica. Phytomedicine , Vol. 7(5), pp .        427-448 ( Review Article ).

Bermawie, N dkk. 2008. Keragaan Sifat Morfologi, Hasil, dan Mutu Plasma          Nutfah             Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban). (Bul. Littro. Vol. XIX No.        1, 1 – 17). Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik.

Darwati, Ireng dkk. 2012. Budidaya dan Pasca Panen Pegagan ( Centella             asiatica ). Balittro.

Dharmono. 2007. Kajian Etnobotani Tumbuhan Jalukap ( Centella asiatica L. ) di Suku Dayak Bukit Desa Haratai 1. Program Studi Pendidikan Biologi             FKIP   Universitas Lambung Mangkurat. Kalimantan Selatan.             BIOSCIENTIAE. 4(2): 71-78

Januwati Mariam dan M. Yusron. 2005 Budidaya Tanaman Pegagan. (Sirkuler      No. 11). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian     Tanaman Obat dan Aromatika.

Sutarman, G dkk. 2003. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. Program Semi-Que V.            Program Studi/Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas           Tanjungpura. Buku Ajar No. 04/SQ-V/IT

The Royal Horticultural Society, 2001. Colour Chart, London.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s