LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI PASCA PANEN “PENGUJIAN KARAKTERISTIK BIOLOGI DAN KIMIA PADA BUAH RAMBUTAN DAN LANGSAT”

Posted: 28/06/2013 in kuliahku

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Buah adalah suatu organ pada tumbuhan berbunga yang merupakan perkembangan lanjutan dari bakal buah (ovarium). Buah – buhan biasanya membungkus dan melindungi biji. Aneka rupa dan bentuk buah tidak terlepas kaitannya dengan fungsi utama buah, yakni sebagai pemencar biji tumbuhan. Pengertian buah dalam lingkup pertanian (hortikultura) atau pangan adalah lebih luas daripada pengertian buah di atas. Karena buah dalam pengertian ini tidak terbatas yang terbentuk dari bakal buah, melainkan dapat pula berasal dari perkembangan organ yang lain. Karena itu, untuk membedakannya, buah yang sesuai menurut pengertian botani biasa disebut buah sejati.

Buah seringkali memiliki nilai ekonomi sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri karena di dalamnya disimpan berbagai macam produk metabolisme tumbuhan, mulai dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, alkaloid, hingga terpena dan terpenoid. Ilmu yang mempelajari segala hal tentang buah dinamakan pomologia Dalam pandangan botani, buah adalah sebagai mana yang tercantum pada paragrapf pertama diatas. Pada banyak sepesies tumbuhan yang disebut buah mencakup bakal buah yang telah berkembang lanjut beserta dengan jaringan yang megelilinginya.

Bagi tumbuhan yang berbunga buah adalah alat untuk menyebar luaskan biji-bijinya,adanya biji didalam dapat mengidikasikan bahwa organ tersebut adalah buah, meski adapula yang tidak berasal dari biji.Dalam batasan tersebut variasi buah bias sangat besar, mencakup buah mangga, buah apel, buah sawo, buah pir, buah pisang, buah jeruk dan lain lain.

2. Tujuan

Untuk mengetahui karakteristik biologi fisik dan kimia pada buah rambutan dan langsat.

 B. TINJAUAN PUSTAKA

A. Rambutan

Rambutan adalah tanaman tropis yang tergolong ke dalam suku lerak-lerakan atau Sapindaceae, berasal dari daerah kepulauan diAsia Tenggara. Kata “rambutan” berasal dari bentuk buahnya yang mempunyai kulit menyerupai rambut.

Pohon hijau abadi, menyukai suhu tropika hangat (suhu rata-rata 25 derajat Celsius), tinggi dapat mencapai 8m namun biasanya tajuknya melebar hingga jari-jari 4m. Daun majemuk menyirip dengan anak daun 5 hingga 9, berbentuk bulat telur, dengan variasi tergantung umur, posisi pada pohon, dan ras lokal.

Pertumbuhan rambutan dipengaruhi oleh ketersediaan air. Setelah masa berbuah selesai, pohon rambutan akan merona (flushing) menghasilkan cabang dan daun baru. Tahap ini sangat jelas teramati dengan warna pohon yang hijau muda karena didominasi oleh daun muda. Pertumbuhan ini akan berhenti ketika ketersediaan air terbatas dan tumbuhan beristirahat tumbuh.

Tumbuhan ini menghasilkan bunga setelah tujuh tahun jika ditanam dari biji, namun pada usia 2 tahun sudah dapat berbunga jika diperbanyak secara vegetatif. Rambutan berumah dua, tetapi bersifat androdioecious, ada tumbuhan penghasil bunga jantan saja dan tumbuhan penghasil bunga banci. Tumbuhan jantan tidak pernah menghasilkan buah.

Pembungaan rambutan dipengaruhi oleh musim atau ketersediaan air. Masa kering tiga bulan menghentikan pertumbuhan vegetatif dan merangsang pembentukan bunga. Di daerah Sumatera bagian utara, yang tidak mengenal musim kemarau rambutan dapat menghasilkan buah dua kali dalam setahun. Di tempat lain, bunga muncul biasanya setelah masa kering 3 bulan (di Jawa dan Kalimantan biasanya pada bulan Oktober dan November).

Bunga majemuk, tersusun dalam karangan, dengan ukuran satuan bunga berdiameter 5 mm atau bahkan lebih kecil. Bunga jantan tidak menghasilkan putik. Tumbuhan banci yang baru berbunga biasanya menghasilkan bunga jantan, baru kemudian diikuti dengan bunga dengan alat betina (putik). Bunga banci (hermafrodit) memiliki benang sari yang fungsional dan memiliki dua bakal buah, meskipun jika terjadi pembuahan hanya satu yang biasanya berkembang hingga matang, sementara yang lainnya tereduksi. Penyerbukan dilakukan oleh berbagai jenis lebah, namun yang paling sering hadir adalah Trigona, lebah kecil tanpa sengat berukuran sebesar lalat. Di berbagai apiari, bunga rambutan juga menjadi sumber utama nektar bagi lebah peliharaan.

Buah rambutan terbungkus oleh kulit yang memiliki “rambut” di bagian luarnya (eksokarp). Warnanya hijau ketika masih muda, lalu berangsur kuning hingga merah ketika masak/ranum. Endokarp berwarna putih, menutupi “daging”. Bagian buah yang dimakan, “daging buah”, sebenarnya adalah salut biji atau aril, yang bisa melekat kuat pada kulit terluar biji atau lepas (“rambutan ace”/ngelotok).

Pohon dengan buah masak sangat menarik perhatian karena biasanya rambutan sangat banyak menghasilkan buah. Jika pertumbuhan musiman, buah masak pada bulan Maret hingga Mei, dikenal sebagai “musim rambutan”. Masanya biasanya bersamaan dengan buah musiman lain, seperti durian dan mangga.

B. Langsat

Langsat (L. domesticum var. domesticum) kebanyakan memiliki pohon yang lebih kurus, berdaun kurang lebat yang berwarna hijau tua, dengan percabangan tegak. Tandan buahnya panjang, padat berisi 15–25 butir buah yang berbentuk bulat telur dan besar-besar. Buah langsat berkulit tipis dan selalu bergetah (putih) sekalipun telah masak. Daging buahnya banyak berair, rasanya masam manis dan menyegarkan.Tak seperti duku, langsat bukanlah buah yang bisa bertahan lama setelah dipetik. Dalam tiga hari setelah dipetik, kulit langsat akan menghitam sekalipun itu tidak merusak rasa manisnya. Hanya saja tampilannya menjadi tidak menarik.

Sebagai tanaman bertajuk menengah, langsat tumbuh baik dalam kebun-kebun campuran (wanatani). Tanaman ini, terutama varietas langsat, menyukai tempat-tempat yang ternaung dan lembab. Di daerah-daerah produksinya, langsat biasa ditanam bercampur dengan durianpetaijengkol, serta aneka tanaman buah dan kayu-kayuan lainnya, meski umumnya langsat yang mendominasi.

Langsat biasa ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl., di wilayah dengan curah hujan antara 1.500-2.500 mm per tahun. Tanaman ini dapat tumbuh dan berbuah baik pada berbagai jenis tanah, terutama tipe tanah latosolpodsolik kuning, dan aluvial. Duku menyenangi tanah bertekstur sedang dan berdrainase baik, kaya bahan organik dan sedikit asam, namun dengan ketersediaan air tanah yang cukup. Sementara itu varietas langsat lebih tahan terhadap perubahan musim, dan dapat menenggang musim kemarau asalkan cukup ternaungi dan mendapatkan air.  Langsat tidak tahan penggenangan.

Langsat umumnya berbuah sekali dalam setahun, sehingga dikenal adanya musim buah duku. Musim ini dapat berlainan antar daerah, namun umumnya terjadi di sekitar awal musim hujan.

Pohon yang berukuran sedang, dengan tinggi mencapai 30 m dan gemang hingga 75 cm. Batang biasanya beralur-alur dalam tak teratur, dengan banir (akar papan) yang pipih menonjol di atas tanah. Pepagan (kulit kayu) berwarna kelabu berbintik-bintik gelap dan jingga, mengandung getah kental berwarna susu yang lengket (resin).

Daun majemuk menyirip ganjil, gundul atau berbulu halus, dengan 6–9 anak daun yang tersusun berseling, anak daun jorong (eliptis) sampai lonjong, 9-21 cm × 5-10 cm, mengkilap di sisi atas, seperti jangat, dengan pangkal runcing dan ujung meluncip (meruncing) pendek, anak daun bertangkai 5–12 mm.

Bunga terletak dalam tandan yang muncul pada batang atau cabang yang besar, menggantung, sendiri atau dalam berkas 2–5 tandan atau lebih, kerap bercabang pada pangkalnya, 10–30 cm panjangnya, berambut. Bunga-bunga berukuran kecil, duduk atau bertangkai pendek, menyendiri, berkelamin dua. Kelopak berbentuk cawan bercuping-5, berdaging, kuning kehijauan. Mahkota bundar telur, tegak, berdaging, 2-3 mm × 4-5 mm, putih hingga kuning pucat. Benang sari satu berkas, tabungnya mencapai 2 mm, kepala-kepala sari dalam satu lingkaran. Putiknya tebal dan pendek.

Buah buni yang berbentuk jorong, bulat atau bulat memanjang, 2-4(-7) cm × 1,5-5 cm, dengan bulu halus kekuning-kuningan dan daun kelopak yang tidak rontok. Kulit (dinding) buah tipis hingga tebal (kira-kira 6 mm). Berbiji 1–3, pipih, hijau, berasa pahit; biji terbungkus oleh salut biji (arilus) yang putih bening dan tebal, berair, manis hingga masam. Kultivar-kultivar yang unggul memiliki biji yang kecil atau tidak berkembang (rudimenter), namun arilusnya tumbuh baik dan tebal, manis.

C. PROSEDUR KERJA

1. Alat dan Bahan

a..Alat

  • Timbangananalitik
  • pH meter
  • Desikator
  • Refraktometer
  • Oven
  • Blender
  • Saringan
  • Gelas

b.Bahan

  • Buah rambutan
  • Buah langsat
  • Kertas label
  • Tissu
  • Airaquades

2. Cara Kerja

Buah Langsat dan Rambutan

Buah+ Kulit di Timbang

Daging + Biji di Timbang

Berat Kulit

Berat Daging

Berat Jus

BeratBiji

Berat Sari

Mengukur Tingkat Keasaman, pH meter

Nilai brix,dengan alat Fractometer

2g,masukankealatDesikator

Berat Kering

Masukan dalam Oven Vaccum

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. 1.      Hasil

Tabel 1. Pengamatan berat buah Rambutan

Berat buah + kulit Berat daging buah + biji Berat kulit Berat daging buah Berat biji Berat jus Berat sari
32,124 16,474 15,65 14,049 2,125
46,318 23,868 22,450 28,228 2,440
35,141 17,111 18,030 14,781 3,330
28,897 13,637 15,260 11,657 1,980
32,938 16,008 16,930 14,193 1,815
55,445 29,079

*Padatan terlarur = refractometer 16˚brix (R)

*berat ampas rambutan = berat jus – berat sari = 55,445 – 29,790 = 25,655

Tabel 2. Pengamatan berat buah langsat

Berat buah + kulit Berat daging buah + biji Berat kulit Berat daging buah Berat biji Berat jus Berat sari
23,826 18,53 5,296 16,407 2,123
25,175 19,923 5,255 17,133 2,790
22,488 17,678 4,810 14,458 3,220
20,961 16,776 4,185 13,801 2,975
20,183 15,003 5,180 12,723 2,280
67,5259 43,415

*Padatan terlarur = refractometer 16˚brix

*Berat ampas langsat = berat jus – berat sari = 67,525 – 43,415 = 24,11

2. Pembahasan

Praktikum kali ini adalah untuk mengetahui karakteristik biologi fisik dan kimia pada buah. Bahan yang digunakan adalah rambutan dan langsat. Pengamatan yang diamati adalah karakteristik fisik dan karakteristik kimiawi, yang meliputi kadar air, pH, dan total padatan terlarut.

Berdasarkan data praktikum yang telah dilaksanakan, karakteristik fisik dari masing – masing bagian buah rambutan adalah 48,71747% untuk persentase kulit buah pertama, 48,46928% untuk persentase kulit buah kedua, 51,30759% untuk persentase kulit buah ketiga, 52,80825% untuk persentase kulit buah keempat dan 51,3996% untuk persentase kulit buah kelima, 51,28253% untuk persentase buah pertama, 51,53072% untuk persentase buah kedua, 48,69241% untuk persentase buah ketiga, 47,19175% untuk persentase buah keempat, 48,6004% untuk persentase buah kelima. Sedangkan karakteristik fisik dari masing – masing bagian buah langsat adalah 22,22782% untuk persentase kulit buah pertama, 20,87388% untuk persentase kulit buah kedua, 21,38919% untuk persentase kulit buah ketiga, 19,96565% untuk persentase kulit buah keempat dan 25,66516% untuk persentase kulit buah kelima, 77,77218% untuk persentase buah pertama, 79,13803% untuk persentase buah kedua, 78,61081% untuk persentase buah ketiga, 80,03435% untuk persentase buah keempat, 74,33484% untuk persentase buah kelima.

Dilihat dari hasil karakteristik fisik buah rambutan, persentase kulit lebih besar dari pada persentase buah, hal ini menunjukan kalau buah rambutan tersebut banyak mengandung kulit sedangkan isinya hanya sedikit. Tapi tidak dengan langsat, komposisi buahnya lebih banyak dibandingkan dengan kulitnya hal itu terlihat dari hasil persentase kulit dan persentase buah.

Untuk pengamatan karakteristik kimia, besarnya kandungan air yang terkandung dalam rambutan adalah 11,74242% dan total padatan terlarut rambutan tersebut adalah 16˚brix, sedangkan pada langsat besarnya kandungan air yang terkandung adalah 12,12609% dan total padatan terlarutnya adalah 16˚brix.

E. PENUTUP

1. Kesimpulan

Berdasarkan data dan  praktikum yang telah dilaksanakan maka dapat diambil suatu kesimpulan yaitu:

  • Dilihat dari hasil karakteristik fisik buah rambutan, persentase kulit lebih besar dari pada persentase buah, hal ini menunjukan kalau buah rambutan tersebut banyak mengandung kulit sedangkan isinya hanya sedikit. Tapi tidak dengan langsat, komposisi buahnya lebih banyak dibandingkan dengan kulitnya hal itu terlihat dari hasil persentase kulit dan persentase buah.
  • Besarnya kandungan air yang terkandung dalam rambutan adalah 11,74242% dan total padatan terlarut rambutan tersebut adalah 16˚brix, sedangkan pada langsat besarnya kandungan air yang terkandung adalah 12,12609% dan total padatan terlarutnya adalah 16˚brix.

2. Saran

Waktu pratikum berlangsung sebaiknya mahasiswa/i lebih memperhatikan lagi saat pembimbing memberikan penjelasan atau tatacara pratikum yang akan dilaksanakan agar tidak terjadi kesalahan pada saat pratikum di mulai. 

DAFTAR PUSTAKA

http://wikipedia.org/langsat

http://wikipedia.org/rambutan

Soerianegara, I. dan RHMJ. Lemmens (eds.). 2002. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara. PROSEA – Balai Pustaka. Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s